Pojokkiri.com

Harta Karun Kertas: Novel Lawas Enny Arrow dan Fredy S Kini Jadi Incaran Kolektor, Harga Tembus Ratusan Ribu

 

Salah satu novel karya Fredy S berjudul ‘Senyummu Adalah Tagisku’ pernah best seller di zamannya.(istimewa)

Lamongan, Pojok Kiri.com-Siapa sangka, tumpukan novel tipis yang dulu memenuhi lapak baca pinggir jalan kini bertransformasi menjadi barang antik bernilai tinggi. Bagi kalangan pecinta novel lawas dan kolektor barang vintage, karya-karya dari penulis legendaris Enny Arrow dan Fredy S kini tengah naik daun dengan harga jual yang fantastis.

Pantauan di pasar kolektor menunjukkan bahwa satu eksemplar novel karya mereka bisa menembus harga Rp 500.000. Namun, harga setinggi itu tidak dipatok sembarangan. Para kolektor menerapkan standar ketat: sampul harus utuh, isi halaman lengkap, dan kondisi fisik buku masih terjaga dengan baik.

Judul-Judul “Legendaris” yang Paling Diburu

Beberapa judul ikonik menjadi primadona di pasar barang antik. Untuk karya Enny Arrow, judul seperti Pesona di Ujung Malam, Sabrina Istri Tergoda, Skandal di Villa Puncak, Perjakaku Direnggut Calon Mertua, hingga Digoyang Delisah menjadi yang paling dicari.

Sementara itu, untuk karya Fredy S, kolektor gencar memburu judul-judul seperti Terjebak Pergaulan Bebas, Cinta yang Kembali, Marissa, Senyummu adalah Tangisku, Kugantungkan Cintaku Padamu dan Bercak-bercak Dosa

Nilai tinggi ini terutama melekat pada cetakan awal yang terbit antara era 80-an hingga akhir 90-an. Kelangkaan menjadi faktor utama mengapa buku-buku ini dihargai mahal.

Ada perbedaan menarik dalam ketersediaan karya kedua penulis ini di pasar modern:

Enny Arrow: Karena kontennya yang tergolong vulgar dan eksplisit, karya aslinya hampir tidak ditemukan dalam cetakan ulang resmi di marketplace. Hal ini membuat edisi lawasnya menjadi “harta karun” yang sangat langka.

Fredy S: Dengan gaya bahasa yang lebih soft dan romantis, beberapa karya Fredy S masih relatif lebih mudah ditemukan atau dibeli melalui platform digital seperti Tokopedia.

Bagi Anda yang masih menyimpan koleksi novel-novel ini di gudang atau lemari tua, mungkin ini saatnya untuk mengecek kembali kondisinya. Siapa tahu, tumpukan kertas tersebut adalah investasi yang tengah menunggu untuk dicairkan.(lut)

 

Editor: Zainul Lutfi

Sumber: www.pojokkiri.com dan Koran Harian Pagi Pojok Kiri