
Lamongan, Pojok Kiri.com-Viral-nya temuan ulat dan telur belatung pada sayur dalam menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Kecamatan Kedungpring, Kabupaten Lamongan, memicu reaksi keras dari kalangan orang tua murid. Para wali murid mengkhawatirkan standar kebersihan jatah ransum yang dibagikan kepada anak-anak mereka setiap hari.
Keluhan tersebut salah satunya disampaikan oleh Ibu M, warga Kelurahan Sidoharjo. Dirinya mengaku telah melihat video rekaman menu MBG berbelatung yang kini tengah menjadi perbincangan hangat di media sosial.
“Saya sudah menonton video viral menu MBG yang di sayurnya terdapat ulat dan telur belatung itu,” ujar Ibu M saat dimintai tanggapan oleh wartawan Koran Harian Pagi Pojok Kiri, Senin (25/5/2026) pagi.
Rentetan Kasus Program MBG di Lamongan
Menurut Ibu M, persoalan pemenuhan gizi gratis di Lamongan bukan kali ini saja terjadi. Ia mengingatkan kembali insiden dugaan keracunan massal yang sempat menimpa belasan siswa di SMA Negeri 2 Lamongan pada Rabu (17/9/2025) beberapa bulan lalu pasca-menyantap menu serupa. Kejadian tersebut bahkan membuat sejumlah siswa harus dilarikan ke rumah sakit.

Melihat program yang terus menuai masalah di lapangan, para orang tua mulai meragukan kredibilitas dan pengawasan terhadap pihak rekanan penyedia makanan.
Usulan Pengalihan Dana Langsung ke Wali Murid atau SPP
Sebagai langkah evaluasi, Ibu M mengusulkan agar pemerintah mengubah skema penyaluran anggaran program tersebut. Daripada diserahkan kepada pihak ketiga yang berisiko mengabaikan higienitas, ia menilai anggaran sebesar Rp15.000 per porsi itu jauh lebih efektif jika diberikan langsung kepada orang tua siswa.
“Informasinya biaya MBG itu Rp15.000 per siswa. Daripada dirupakan menu yang bermasalah seperti saat ini, lebih baik uang jatahnya dikasihkan langsung ke wali murid. Dengan nominal segitu, orang tua bisa menyediakan makanan yang jauh lebih bersih dan bergizi,” tegas wanita yang meminta identitasnya tidak ditulis lengkap tersebut.
Selain pengalihan dalam bentuk uang saku makanan, ia juga memberikan opsi alternatif agar anggaran MBG dikonversi untuk membiayai Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) siswa.
“Daripada program ini terus menuai masalah, anggarannya bisa dialokasikan untuk biaya sekolah murid supaya sekolah benar-benar gratis. Bukannya biaya sekolah di Indonesia saat ini tergolong mahal?” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak dinas terkait maupun perwakilan rekanan penyedia program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Lamongan belum memberikan keterangan resmi terkait langkah investigasi atas temuan sayur berbelatung tersebut. (lut)
Editor: Zainul Lutfi
Sumber: www.pojokkiri.com dan Koran Harian Pagi Pojok Kiri

