
Lamongan, Pojok Kiri.com-Harian Pojok Kiri menerima kiriman dari salah satu nitizen berupa design tandingan Jalur Lingkar Utara (JLU) Lamongan. Design tersebut dibuat sebagai alternatif dari rancangan yang sudah disiapkan pemerintah.
Menurut nitizen tersebut, design buatannya dianggap lebih sesuai dari sisi pengamanan. Dalam rancangan awal, pembatas jalan berbentuk menyerupai huruf S yang menjorok hingga memakan jalur kendaraan dan dilapisi rabat beton. Namun, dalam design tandingan, bagian itu diganti dengan taman penghijauan yang ditanami pohon hias, serta dibuat lurus tanpa lengkungan menyerupai huruf S.
Meski begitu, nitizen itu juga menekankan pentingnya kewaspadaan pengendara. Ia berpesan agar driver berhati-hati, dan bila merasa mengantuk atau lelah, sebaiknya beristirahat terlebih dahulu.
Unggahan design tandingan ini mendapat perhatian luas dari warganet dan sudah dibagikan sebanyak 126 kali. Respon yang muncul pun beragam, sebagian mendukung, namun tidak sedikit pula yang menolak.
Yang pro, seperti akun @Yusuf Kangkong, menilai design itu lebih tepat. Ia menambahkan masukan agar putar balik di JLU dihilangkan, dan diganti dengan memanfaatkan putar balik di pintu masuk dan pintu keluar Desa Deket serta Desa Plosowahyu. “Mungkin itu lebih tepat dan aman,” tulisnya.
Sementara yang kontra, seperti akun @Gedang Godong Mreteli, menilai rancangan pemerintah sudah cukup. Ia menekankan faktor keselamatan lebih bergantung pada perilaku pengendara. “Asal driver/pengendara waspada hati-hati. Kalau ngantuk istirahat dan jangan lupa berdoa. Iku wes bener kang! Gak usah atek sok-sokan ndesain, bak bok desain. Koyok tletong nek wayahe celoko arep opo,” tulisnya dalam unggahan komentar.
Design tandingan JLU Lamongan ini pun akhirnya menjadi bahan perbincangan hangat publik, memperlihatkan adanya perbedaan pandangan antara kebutuhan desain infrastruktur dan kesadaran perilaku berkendara.(lut)

