Pojokkiri.com

Dari YouTube ke Bioskop, Woko Channel Bawa Humor Kediri ke Layar Lebar.

KEDIRI, Pojokkiri.com– Kreativitas lokal kembali menguji panggung nasional. Woko Channel, kanal YouTube komedi asal Kediri, melebarkan sayap ke industri perfilman melalui film Piye To Kih?. Film yang memadukan horor, komedi, dan romansa itu dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia pada 19 November 2026.

Perjalanan dari layar ponsel menuju layar lebar itu mendapat sambutan di Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS) Kediri. Ratusan pelajar SMA dan mahasiswa memadati kampus untuk menemui para pemeran film tersebut, (05/11/2026) kamis.

Heri Chandra (Mukidi), Dara Sarasvati (Sukma), Rizka Oktavia (Mintul), Eko Dunung (Penyok), Gabriella Desta (Bunga), dan Lorenco Gibs (Jotay) hadir dalam agenda promosi tersebut. Mereka tidak hanya memperkenalkan film, tetapi juga membagikan pengalaman memasuki industri perfilman.

Film garapan sutradara Ito Mavin itu menandai upaya Woko Channel membawa humor dan identitas budaya lokal ke industri hiburan nasional. Popularitas di media sosial kini diuji melalui medium yang berbeda: bioskop dengan jangkauan penonton lebih luas.

Koordinator UDINUS Kediri, Filmada Ocky Saputra, M.Eng., melihat pertemuan tersebut sebagai ruang perjumpaan antara pendidikan dan industri kreatif. Ia menilai pengalaman para pemain dan proses produksi film relevan dengan pembelajaran mahasiswa, terutama program studi Desain Komunikasi Visual (DKV).

“Bikin film bukan sekadar merangkai cerita. Ada proses kreatif yang panjang, mulai dari mematangkan ide, visualisasi, menerjemahkan pesan, hingga produksi. Kami ingin mahasiswa melihat bahwa ilmu yang dipelajari di kelas memiliki peluang untuk diterapkan di industri,” kata Filmada.

Menurut dia, kegiatan semacam itu diharapkan tidak berhenti sebagai promosi film. UDINUS Kediri membuka peluang kolaborasi lebih luas dengan pelaku industri kreatif agar mahasiswa memiliki akses terhadap pengalaman dan praktik profesional.

Di hadapan mahasiswa, Heri Chandra mengungkapkan bahwa tawaran bermain film sempat membuatnya ragu. Ia belum memiliki pengalaman berakting di layar lebar. Namun, setelah membaca skenario, ia memutuskan menerima tawaran tersebut.

“Pertama ditawari main film, saya takut. Belum pernah main film. Dikasih waktu satu bulan buat mikir. Tapi belum genap seminggu, skrip sudah dikirim. Saya baca, ceritanya apik, humor, menarik. Akhirnya saya terima, biar punya pengalaman,” ujar Heri.

Ia mengatakan film tersebut tidak hanya menawarkan kelucuan. Ada pesan tentang ketulusan, kesetiaan dalam pertemanan, dan keikhlasan menerima sesuatu yang bukan menjadi takdir.

“Menjadi diri sendiri lebih baik daripada menjadi orang lain,” katanya.

Dara Sarasvati juga tertarik bergabung karena cerita yang ditawarkan tidak berhenti pada perpaduan horor, komedi, dan romansa. Menurut dia, film tersebut menyimpan pesan tentang memantaskan diri dan keikhlasan.

“Yang pertama adalah kualitas dari isi filmnya sendiri. Walaupun terkesan horor, komedi, dan romance, maknanya lebih dalam,” kata Dara.

Piye To Kih? mengisahkan Mukidi yang berusaha membeli rumah murah untuk mempersiapkan pernikahan. Namun, rencana itu justru mempertemukannya dengan Sukma, sosok dari alam berbeda yang memiliki keyakinan tidak sama. Situasi tersebut menghadirkan konflik absurd sekaligus komedi.

Kehadiran para pemain di UDINUS Kediri memperlihatkan bahwa industri kreatif dapat menjadi ruang pengembangan talenta daerah. Namun, popularitas di media sosial bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Karya lokal tetap harus membuktikan kualitas cerita, penggarapan, dan kemampuannya menjangkau penonton yang lebih luas.

Pada 19 November mendatang, Piye To Kih? akan menghadapi ujian sesungguhnya di bioskop. Bukan hanya tentang seberapa besar nama Woko Channel dikenal, melainkan sejauh mana humor dan identitas Kediri dapat diterima oleh penonton Indonesia. (ade/wan)