
Para petani di berbagai daerah menyambut penuh sukacita turunnya harga pupuk bersubsidi sebesar 20 persen yang resmi berlaku mulai 22 Oktober 2025.
Bagi mereka, ini bukan sekadar penurunan angka, tapi harapan baru untuk mengurangi beban produksi dan meningkatkan kesejahteraan.
Sementara salah satu petani Suheri asal Desa Ngampel, Kecamatan Balongpanggang, Kabupaten Gresik, mengungkapkan dengan turunnya harga pupuk subsidi juga akan berimbas pada kenaikan keuntungan petani saat menjual gabah dengan HET yang sudah ditetapkan oleh pemerintah.
“Tentu, dengan turunnya harga pupuk subsidi akan menaikkan keuntungan petani saat menjual gabah dengan HET Rp. 6500. Hal ini juga semakin meningkatkan jumlah produksi petani juga nantinya,”
Alhamdulillah kami sangat girang sekali dan bisa tersenyum lebar. Harga pupuk turun, jadi kami bisa tanam lebih luas tanpa khawatir kekurangan modal. Ini bukan hanya soal angka, tapi rasa lega dan harapan. ungkapnya, saat usai mengikuti acara di rembuk tani, Rabu 29 Oktober 2025 sore.
Ia berharap dengan turunnya harga pupuk subsidi ini terus berkelanjutan dan tidak naik lagi. Mengingat, pupuk adalah salah satu bahan produksi pertanian yang vital bagi petani.
“Semoga harganya terus disubsidi seperti ini, tidak ada kenaikan karena dengan seperti ini. Jumlah produksi pertanian semakin melimpah dan pupuk adalah bahan produksi vital bagi kami (petani),” harapnya.
Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, yang hadir menegaskan bahwa penurunan harga pupuk bersubsidi ini diikuti peningkatan alokasi nasional dari 5 juta ton menjadi 9,5 juta ton. Sistem distribusi juga kini lebih sederhana agar pupuk dapat tersalurkan lebih cepat dan tepat sasaran.
“Kami berkomitmen memastikan kebutuhan pupuk petani di seluruh wilayah, termasuk Gresik, terpenuhi dengan baik,” ujarnya.
Meskipun dikenal sebagai kota industri, Gresik juga merupakan salah satu daerah penopang pangan di Jawa Timur. Kabupaten Gresik menunjukkan kinerja yang konsisten dalam sektor pertanian. Berdasarkan data Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur, Gresik masuk dalam lima besar daerah dengan luas tanam padi dan produktivitas tertinggi di wilayah utara Jawa Timur. Produktivitas padi di Gresik pada 2024 tercatat mencapai rata-rata 6,2 ton per hektare, dengan kontribusi signifikan dari kecamatan Balongpanggang, Benjeng, dan Cerme. Tambahnya. (Dyo)

