
MOJOKERTO — Senin pagi 27 Juli 2026, halaman SMAN 1 Gedeg dipenuhi wajah-wajah baru. Ratusan peserta didik kelas 10 datang dengan seragam rapi dan semangat yang masih campur aduk antara gugup dan antusias.
Bagi mereka, ini bukan sekadar hari pertama masuk sekolah. Ini awal dari perjalanan 3 tahun untuk mengejar cita-cita.
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah tahun ini dikemas dengan suasana yang jauh lebih hangat. Tidak ada bentakan. Tidak ada kegiatan yang membuat takut. Yang ada justru kerja kelompok, permainan edukatif, diskusi ringan, dan motivasi dari para guru.
SMAN 1 Gedeg sengaja memilih pendekatan kolaboratif. Tujuannya agar siswa baru cepat akrab dengan lingkungan, dengan kakak kelas, dan dengan nilai-nilai yang dijunjung sekolah.
Kepala SMAN 1 Gedeg, Nurul Wakhidah menyebut MPLS sebagai fondasi awal. Menurutnya, kegiatan ini jauh melampaui seremoni pembukaan biasa.
“MPLS bukan hanya acara seremonial. Ini pintu masuk kami untuk membentuk cara berpikir dan karakter anak-anak. Dari sini kami mulai menanamkan kebiasaan baik,” ujarnya di sela kegiatan.
Ia menambahkan, tuntutan zaman saat ini tidak cukup hanya mengandalkan nilai rapor. Sekolah butuh melahirkan lulusan yang lentur menghadapi perubahan, memiliki rasa peduli, dan bermental tangguh.
“Lewat MPLS kami dorong nilai kedisiplinan, semangat bekerja sama, dan rasa memiliki terhadap sekolah. Kami ingin dari tempat inilah tumbuh calon-calon pemimpin masa depan SMAN 1 Gedeg,” lanjut Nurul.
Salah satu agenda yang paling berkesan bagi siswa baru adalah kegiatan penghijauan. Bersama-sama mereka menanam bibit tanaman di area sekolah. Aksi sederhana ini dimaksudkan sebagai pelajaran tentang kepedulian terhadap alam, tanggung jawab, dan arti gotong royong.
Selama 5 hari ke depan, para siswa akan dikenalkan dengan penerapan Kurikulum Merdeka, ragam kegiatan ekstrakurikuler, aturan sekolah, hingga budaya dan tradisi yang hidup di SMAN 1 Gedeg.
Peran pembimbing diserahkan kepada pengurus OSIS dan guru pendamping. Mereka bertugas mendampingi, menjawab pertanyaan, sekaligus memastikan proses pengenalan berjalan menyenangkan.
“Kami ingin anak-anak merasa nyaman sejak hari pertama. Ketika suasana menyenangkan, proses belajar dan beradaptasi jadi lebih cepat,” kata salah satu guru pendamping.
Nurul Wakhidah berharap, setelah rangkaian MPLS selesai, siswa baru bisa tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya berprestasi di bidang akademik, tapi juga memiliki budi pekerti dan jiwa kepemimpinan.
“Harapan kami sederhana. Semoga dari MPLS ini lahir generasi SMAN 1 Gedeg yang unggul, punya prestasi, dan berkarakter kuat,” tutupnya.
Dengan konsep baru ini, SMAN 1 Gedeg ingin membuktikan bahwa masa pengenalan sekolah bisa menjadi ruang yang ramah, mendidik, dan menginspirasi, bukan ajang yang menakutkan. (Jay/Adv)

