Pojokkiri.com

Cantik Kilat, Efek Berat: Bahaya Merkuri di Skincare dan Peran Dokter dalam Menanganinya

Era modern saat ini menuntut standar kecantikan yang sempurna. Hal ini didorong
pesatnya perkembangan standar kecantikan yang sering kali dipengaruhi oleh media sosial,
selebriti, dan industri kosmetik. Kaum wanita mengupayakan berbagai macam cara untuk
mencapai tampilan yang sesuai dengan standar yang telah mereka ciptakan. Perawatan kulit
wajah menjadi perawatan paling diutamakan oleh wanita. Kaum wanita berusaha mencapai
tampilan kulit cerah dan mulus melalui berbagai macam produk perawatan kulit. Salah satu
bahan yang kerap dicari untuk memperoleh hasil instan adalah merkuri.
Namun, di balik klaim kecantikan instan yang dijanjikan, penggunaan merkuri dalam
produk skincare dapat membawa dampak kesehatan yang sangat berbahaya. Merkuri dalam
kandungan skincare mampu menyebabkan berbagai macam permasalahan serius pada kulit mulai
dari kerusakan ginjal, gangguan saraf, hingga kerusakan pada sistem kekebalan tubuh.
Penggunaan merkuri dalam produk kosmetik telah dilarang di banyak negara, namun peredaran
produk merkuri ilegal masih marak dan pemakainya semakin banyak.
Merkuri adalah salah satu senyawa yang sering ditambahkan dalam produk kecantikan.
Merkuri (Hg) memiliki kemampuan kerja memutihkan yang sangat kuat. Meski begitu, justru hal
tersebut tidak baik untuk digunakan karena mampu memicu toksisitas terhadap organ ginjal,
saraf, dan otak. Ion merkuri dapat menghalangi sintesis melanin pigmen kulit di sel melanosit.
Meskipun dalam konsentrasi yang kecil, kandungan merkuri dapat bersifat racun. Bahaya
tersebut ditinjau langsung oleh Badan POM sehingga dibuat peraturan Kepala Badan POM No.
23 Tahun 2019 tentang Persyaratan Teknis Bahan Kosmetik di mana merkuri menjadi senyawa
yang tidak diizinkan digunakan dalam produk kosmetika. Namun, fakta mengungkapkan bahwa
kandungan merkuri dalam kosmetik biasanya tidak ditulis dalam kandungan komposisi.
Merkuri bersifat racun kumulatif yang secara cepat dapat diserap melalui kulit dan dapat
mengakibatkan kulit terlokalisasi dengan parah. Merkuri dapat masuk dalam tubuh melalui
udara, air, atau dalam bentuk makanan. Namun, tubuh manusia tidak dapat mengolah
bentuk-bentuk dari metil merkuri sehingga merkuri yang terserap akan tetap berada dalam tubuh.

Merkuri yang digunakan dalam produk skincare dapat masuk ke dalam tubuh melalui aliran
darah dan terkumpul di ginjal, sehingga berpotensi menyebabkan kematian. Dapat dibayangkan
apabila hal kandungan merkuri tersebut digunakan dalam jangka waktu yang lama sehingga
gangguan kesehatan dapat terjadi. Meskipun dampak merkuri yang tertelan lebih parah,
penggunaan merkuri pada kulit tetap dapat memicu efek negatif pada kesehatan tubuh
Penggunaan merkuri dalam produk skincare secara nyata dapat memberikan hasil instan
berupa pemutihan kulit. Namun, perlu diketahui bahwa senyawa merkuri merupakan bahan yang
berbahaya dan dilarang penggunaannya dalam produk kecantikan. Merkuri dapat menyebabkan
kerusakan serius pada organ tubuh, seperti ginjal, saraf, dan sistem kekebalan tubuh. Selain itu,
dampaknya pada kulit juga beragam, mulai dari ruam, kulit mudah terkelupas, munculnya bintik
hitam, jerawat, hingga pembengkakan wajah. Oleh karena itu, penting bagi konsumen untuk
lebih cermat dalam memilih produk perawatan kulit dan memastikan produk tersebut terdaftar
secara resmi dan aman.
Dalam hal ini, peran dokter sangat penting dalam memberikan edukasi kepada
masyarakat terkait bahaya penggunaan produk yang mengandung bahan berbahaya seperti
merkuri. Seorang dokter memiliki tanggung jawab untuk memeriksa dan memantau kondisi
pasien, memberikan saran pengobatan yang tepat, serta mendidik masyarakat tentang
pencegahan risiko kesehatan. Sesuai dengan UU No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran,
dokter juga berperan dalam memberikan resep dan rekomendasi produk yang aman bagi
kesehatan kulit, sehingga masyarakat dapat terhindar dari dampak buruk produk kosmetik ilegal.
Ketika pasien mengalami dampak buruk akibat paparan merkuri dari produk skincare,
dokter berperan sebagai garda terdepan dalam diagnosis, pengobatan, dan rehabilitasi pasien
tersebut. Langkah awal yang dilakukan adalah mengidentifikasi gejala yang muncul, seperti
kerusakan kulit berupa ruam, pengelupasan, atau bintik hitam, hingga gejala sistemik seperti
kelelahan, nyeri otot, atau gangguan fungsi ginjal.
Setelah melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik, dokter mungkin akan
merekomendasikan pemeriksaan penunjang seperti tes darah untuk mendeteksi kadar merkuri
dalam tubuh, tes fungsi ginjal untuk menilai kerusakan, atau biopsi kulit jika ditemukan kelainan
yang mencurigakan. Data dari pemeriksaan ini akan membantu dokter menentukan tingkat

keparahan kondisi pasien untuk melakukan pengobatan yang sesuai. Dokter juga memiliki
kewajiban untuk meresepkan obat kepada pasien apabila dirasa diperlukan.
Sejatinya resep merupakan suatu permintaan tertulis dari seorang dokter kepada apoteker
untuk menyajikan dan menyerahkan obat kepada pasien sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Dalam hal ini, resep harus dituliskan dengan jelas agar dapat dibaca oleh apoteker agar tidak
terjadi kesalahan dalam penyajian obat. Penyajian obat ini dapat membantu mengatasi masalah
kesehatan yang dialami oleh pasien dengan didasarkan pada aturan yang baku dan proses yang
panjang. Pemberian obat yang tidak sesuai dengan SOP dapat menimbulkan bahaya terhadap
pasien. Alih-alih menyembuhkan pasien dari penyakit yang dihadapi, pemberian obat yang salah
dapat menyebabkan dampak negatif pada kondisi kesehatan pasien, bahkan dapat menyebabkan
kematian.
Peran yang dimiliki dokter dalam pemberian resep obat, yaitu menjelaskan prosedur
tentang manfaat atau fungsi dari obat yang diberikan. Hal-hal yang perlu dilakukan, yaitu cara
pakai dari obat, efek samping yang mungkin terjadi setelah penggunaan obat, dan hal apa yang
perlu dilakukan ketika seseorang mengalami efek samping tersebut. Penginformasian ini penting
agar pasien dapat mengetahui kegunaan dari obat yang dikonsumsi. Selain itu, pemberian
informasi ini dapat meminimalisir adanya kepanikan dari pasien ketika mengalami efek samping
dari obat yang dikonsumsi.
Setelah pengobatan, dokter juga memberikan perhatian pada rehabilitasi pasien. Edukasi
tentang pentingnya penggunaan produk kosmetik yang aman dan terdaftar di BPOM menjadi
bagian tak terpisahkan dari proses pemulihan. Dokter juga dapat memberikan panduan pola
hidup sehat untuk membantu tubuh memulihkan diri dari kerusakan yang disebabkan oleh
merkuri.
Kolaborasi antara dokter, farmakolog, dan instansi kesehatan juga diperlukan untuk
mencegah kasus serupa terulang. Kampanye edukasi kepada masyarakat tentang bahaya
kosmetik ilegal dan cara mengenali produk berbahaya adalah upaya jangka panjang untuk
melindungi kesehatan publik dari dampak merkuri.