Pojokkiri.com

Menyapa Sejarah di Jantung Kota: Watertoren, Saksi Bisu Kejayaan Lamongan Sejak 1924

 

Miniatur menara air 1924 yang dipasang di Kantor Pusat PDAM Lamongan Jl
Lamongrejo No.96, Lamongan, Sidokumpul, Kec/Kabupaten Lamongan.(Foto: Zainul Lutfi for Pojok Kiri)

Lamongan, Pojokkiri.com-Bangunan menara air yang memiliki tinggi 13 meter tersebut terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian kaki, bagian badan dan yang paling atas disebut bagian kepala di bangun di era Penjajahan Belanda Tahun 1924.

“Bagian kaki berbentuk lingkaran dan bagian badan hingga bagian kepala berbentuk segi delapan, dengan luas 12 meter,” tuturnya.

Rahmat menjelaskan, pembangunan menara air tersebut bermula dari adanya penataan kembali beberapa kawedanan di Karesidenan (saat ini dikenal dengan kabupaten) Lamongan. Karena saat itu kebutuhan yang paling mendesak di wilayah perkotaan adalah ketersediaan air bersih, maka dibangunlah sebuah perusahaan air minum Karesidenan Lamongan, dengan air baku diambil dari salah satu sumber air jernih di wilayah Mantup.

Dari segi geologi, Lamongan perkotaan ketika itu merupakan daerah akresi dari Bengawan Solo yang tanahnya berlumpur sehingga air tanah di daerah tersebut kurang baik untuk dikonsumsi.

Perusahaan air minum ini akhirnya mendirikan menara air di Lamongan Kota sebagai alat menampung dan mendistribusikan air untuk mengatasi masalah tersebut,” ucap Rahmat kepada Wartawan Harian Pagi Pojok Kiri. Meskipun saat ini sudah tidak berfungsi, namun bangunan yang menjadi ikon Alun-alun Lamongan tersebut masih tetap terawat.(lut)

 

Editor: Zainul Lutfi

Sumber: www.pojokkiri.com dan Koran Harian Pagi Pojok Kiri