Pojokkiri.com

Malu Pakai Kebaya? Bocah 10 Tahun dari Mojokerto Ini Buktikan Justru Itu yang Bikin Menang

Malu Pakai Kebaya? Bocah 10 Tahun dari Mojokerto Ini Buktikan Justru Itu yang Bikin Menang
Malu Pakai Kebaya? Bocah 10 Tahun dari Mojokerto Ini Buktikan Justru Itu yang Bikin Menang

Mojokerto, Pojok Kiri – Di tengah derasnya arus fashion kekinian, seorang anak perempuan asal Mojokerto justru memilih jalan berbeda. Ia jatuh cinta pada kebaya. Dan cinta itu membawanya berdiri di atas panggung nasional.

 

Namanya *Azalea Mauren Achmad*. Siswi SDN Balongsari 3 Kota Mojokerto ini baru saja dinobatkan sebagai *Juara II Puteri Kebaya Indonesia 2026 Kategori Cilik*. Grand final ajang yang digagas PT Putra Anta Gemilang itu digelar di Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu 4 Juli 2026.

 

Bagi Mauren, mahkota itu bukan sekadar kemenangan lomba. Ia menyebutnya sebagai bukti bahwa melestarikan budaya bisa dimulai sejak kecil.

 

*Cinta Pertama: Kebaya di Toko Batik*

 

Kisah Mauren dimulai bukan dari panggung, melainkan dari etalase toko batik. Sejak usia 4 tahun, ia sudah terpikat melihat deretan kebaya yang dipajang.

 

“Sejak umur empat tahun aku sudah suka kebaya. Waktu itu sering lihat di toko batik. Aku pernah bilang ke mama kalau suatu hari nanti ingin beli kebaya. Aku juga ingin ikut melestarikan kebaya karena teman-teman sekarang lebih sering memakai baju kekinian,” kenang Mauren.

 

Di usia yang kebanyakan anak sibuk dengan tren, Mauren justru menyimpan keinginan sederhana: mengoleksi kebaya dan memakainya.

 

*Titik Balik: Duta Batik 2025*

 

Ketertarikannya bukan iseng. Tahun 2025, Mauren mencoba peruntungan di ajang *Duta Batik Kota Mojokerto*. Hasilnya di luar dugaan: ia meraih *Juara Favorit*.

 

Dari situlah ia belajar lebih dalam tentang kain, motif, dan makna di balik setiap helai batik dan kebaya. Pengalaman itu menjadi bahan bakar untuk melangkah lebih jauh.

 

Akhirnya ia memberanikan diri mendaftar *Puteri Kebaya Indonesia 2026*. “Menurut pendampingnya, keberhasilan di Duta Batik membuat Mauren semakin tertarik mempelajari kebaya sekaligus mengenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat,” kata orang terdekatnya.

 

*Yogyakarta, Prambanan, dan Rasa Gugup*

 

Selama karantina nasional di Yogyakarta, Mauren mengaku mendapat banyak hal baru. Bertemu peserta dari berbagai daerah. Belajar public speaking. Dan satu momen yang tidak akan ia lupakan: melihat *Candi Prambanan* secara langsung untuk pertama kali.

 

“Aku excited banget karena pertama kali melihat Candi Prambanan. Itu pengalaman yang sangat berkesan buat aku,” ujarnya.

 

Namun perjalanannya tidak selalu mulus. Di babak tanya jawab, Mauren sempat gugup. Ia bahkan sempat pesimis.

 

“Aku sempat berpikir kayaknya tidak akan lolos. Ternyata bisa sampai Top 3. Senang sekali rasanya,” ucapnya lega.

 

*”Kalau Besar, Saya Mau Jadi Puteri Indonesia”*

 

Kini dengan selempang Juara II melingkar di bahu, Mauren tidak berhenti di situ. Ia punya target besar.

 

“Kalau sudah besar, aku ingin ikut Puteri Indonesia,” katanya mantap.

 

Baginya, panggung kebaya hanyalah latihan. Tujuan akhirnya adalah membawa nama Indonesia lebih luas lagi.

 

*Pesan untuk Generasi Zaman Now*

 

Di akhir wawancara, Mauren menitipkan pesan yang sederhana tapi menohok. Terutama untuk anak-anak seusianya yang mungkin malu memakai pakaian tradisional.

 

“Jangan malu memakai kebaya atau batik. Kita harus bangga karena itu budaya Indonesia. Walaupun sekarang banyak baju yang modern, kita tetap harus ikut melestarikan budaya kita supaya tidak hilang,” tegasnya.

 

Ia percaya, pelestarian budaya tidak harus menunggu tua. Cukup mulai dari hal kecil: memakai kebaya saat acara sekolah, mengenalkan batik ke teman, dan tidak gengsi menjadi diri sendiri.

 

Dari Mojokerto ke Yogyakarta, dari toko batik ke panggung nasional. Mauren membuktikan satu hal: ketika anak muda memilih mencintai buday


anya sendiri, dunia akan ikut melihat. (Jay/Adv)