
Gresik, Pojok Kiri
Peringatan Hari Pramuka ke-59 di lapangan Desa Babatan, Kecamatan Balongpanggang, Kabupaten Gresik menuai protes. Pasalnya, semua anggaran dibebankan ke desa. Kenyataan ini dilontarkan salah satu perangkat desa yang enggan disebut namanya.
Menurut sumber Pojok Kiri ini, desa diwajibkan membiayai acara tersebut, mulai dari sound system, terop, hingga konsumsi. Semuanya ditanggung desa. Nilainya mencapai Rp 22 juta.
Akibatnya, pihak desa harus memutar otak dan berpikir ekstra keras untuk mendapatkan uang sebanyak itu. Akhirnya disepakati, untuk setiap pedagang yang berjualan di area perkemahan dikenakan tarif Rp 160 ribu. Nilai tersebut untuk dua hari berjualan. Selain dari pedagang, pihak desa juga terpaksa menarik jasa parkir dari pengunjung demi menutupi anggaran yang dibebankan.
Dikonfirmasi terkait hal ini, pihak panitia mengelak. Menurut Ketua Panitia, Faisal, anggaran acara sudah dibebankan ke sekolah masing-masing.
Ia berdalih, semua anggaran pramuka sudah masuk dalam biaya operasional sekolah (BOS). Sehingga sekolah wajib menyediakan. Oleh sebab itu, pihaknya sudah tidak perlu repot-repot lagi memikirkan anggarannya.
Tapi ketika ditanya berapa anggaran yang dibutuhkan untuk acara ini, Faisal mengaku tidak tahu dan menggelengkan kepala.
“Kalau soal anggaran, Muspika yang tahu, Mas. Karena mereka yang bertanggung jawab,” kata Faisal dengan nada menakut-nakuti.
Budaya ABS (Asal Bapak Senang) warisan orde baru yang sudah usang dan sudah waktunya dibuang ini seharusnya tidak lagi dipertontonkan. Hanya karena ingin dipuji Wakil Bupati yang rencananya akan datang dalam pembukaan acara tersebut, pihak panitia harus nodong sana-sini demi tercapainya hasrat sesaat. Kasihan kepala desa yang terbebani anggaran.
Perlu diketahui, mulai dari pemilihan kepala desa hingga pelantikan kemarin, kepala desa terpilih belum sepeser pun mengelola anggaran, karena SK pelantikan baru turun tanggal 16 september 2019 kemarin. Artinya, kepala desa yang baru masih belum bisa mencairkan anggaran, karena masih harus menyelesaikan masalah administrasi seperti perubahan specimen sebagai syarat pencairan dana di bank.
Sementara yang namanya permintaan sumbangan atau partisipasi dalam rangka HUT Kemerdekaan RI kemarin datang silih berganti dari berbagai penjuru. Sampai-sampai, kepala desa bersembunyi siang-malam menutup rumah demi menghindari badai sumbangan. Sungguh kasihan.(fan)
