Pojokkiri.com

Ikan Sapu-Sapu Kini Jadi Komoditas Ekonomi di Pasar Ikan Lamongan, Tembus Rp15.000 per Kg

 

Pencari ikan sapu-sapu saat menjual ke pengepul ikan sapu sapu di UPT Pasar Ikan Lamongan Jl Kusuma Bangsa .(Foto: Zainul Lutfi for Pojok Kiri)

Lamongan, Pojokkiri.com-Ikan sapu-sapu yang selama ini dikenal sebagai ikan hama dan dianggap tidak memiliki nilai jual, kini mulai bergeser menjadi komoditas ekonomi yang menjanjikan. Pemandangan unik ini terlihat di UPT Pasar Ikan Lamongan pada Jumat (18/7/2026), di mana sejumlah petambak mulai memperjualbelikan jenis ikan tersebut.

Berdasarkan pantauan di lokasi, kehadiran ikan sapu-sapu di pasar ini sempat mengejutkan beberapa pihak karena habitat aslinya yang biasa hidup di aliran sungai dan rawa-rawa keruh. Namun, di tangan para petambak dan pengepul, ikan ini kini memiliki nilai tukar rupiah.

Huda, seorang petambak asal Kecamatan Karangbinangun, terlihat sedang menyetorkan hasil tangkapan ikan sapu-sapunya kepada pengepul di UPT Pasar Ikan Lamongan. Ia membenarkan bahwa pasar untuk ikan hama ini sudah terbentuk.

“Ya laku, Mas! Ikan sapu-sapu ini disetorkan ke pabrik di Surabaya untuk dijadikan pakan olahan ikan, terutama untuk ikan lele,” ujar Huda saat diwawancarai di lokasi.

Selain dikirim ke pabrik pengolahan pakan ikan di Surabaya, Huda menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu juga sangat diminati oleh peternak unggas. Kandungan proteinnya yang tinggi dinilai sangat bagus untuk pakan bebek komersial.

“Bisa juga digunakan untuk pakan bebek. Karena ikan sapu-sapu mengandung protein tinggi, kalau dikasih ke bebek akan membuat hewan tersebut jadi mudah bertelur. Selain itu, bisa juga dimanfaatkan sebagai bahan umpan pancing,” tambahnya.

Di beberapa wilayah, komoditas unik ini mulai dihargai sekitar Rp15.000 per kilogram untuk kategori ikan konsumsi yang sudah berupa daging fillet atau potongan bersih. Geliat baru ini diharapkan dapat menjadi alternatif penghasilan tambahan bagi para petambak sekaligus menekan populasi ikan sapu-sapu yang kerap merusak ekosistem tambak budidaya.(lut)

Editor: Zainul Lutfi