Pojokkiri.com

Pasar Sepi, Tarif Naik: Pedagang Pahing Melawan

KEDIRI, pojokkiri.com— Pedagang Pasar Pahing, Kota Kediri, mempersoalkan kebijakan Perumda Pasar Joyoboyo yang mengubah hak guna pakai menjadi hak sewa. Istilahnya disebut berbeda: “biaya administrasi.” Bebannya, menurut pedagang, tetap sama—membayar untuk hak yang sebelumnya mereka gunakan tanpa pungutan.

Puluhan pedagang membahas persoalan itu di Toko Mebel Pak Din/Bu Sup, Jalan Cendana, Kelurahan Singonegaran, Kecamatan Pesantren, Kamis, 3 September 2026. Ketua Paguyuban Pasar Pahing, Pujiono, mengatakan sekitar 300 pedagang keberatan dengan kebijakan tersebut.

Menurut Pujiono, pedagang sejak awal memperoleh kartu anggota dan hak guna pakai tanpa biaya. Kini, untuk penerbitan buku administrasi, pedagang diminta membayar Rp200 ribu untuk masa berlaku satu tahun. Perpanjangan dikenai Rp100 ribu.

Pedagang juga mempersoalkan kenaikan karcis harian. Salah satu pedagang mebel, Kolik, mengatakan tarif kios mebel naik dari Rp1.200 menjadi Rp3.000 per hari. Toko bagian depan yang sebelumnya dikenai Rp5.000 kini mencapai Rp20 ribu.

Pedagang menghitung kenaikan itu sekitar 600 persen. Persoalannya bukan hanya besaran tarif. Pedagang mempertanyakan arah kebijakan pengelola pasar. Di tengah kondisi pasar yang disebut semakin sepi, pungutan justru bertambah.

Rencana penerapan portal atau sistem karcis elektronik di pintu masuk pasar ikut ditolak. Pujiono khawatir kebijakan itu membuat pembeli memilih pasar lain yang dianggap lebih mudah dan murah diakses. “Kalau masuk pasar makin diperketat pakai portal, pembeli pasti cari tempat lain,” ujarnya.

Di sini muncul persoalan yang lebih mendasar: apakah kebijakan Perumda Pasar Joyoboyo sedang memperbaiki tata kelola pasar atau justru menambah beban pedagang?

Pedagang mengatakan sudah delapan kali melakukan mediasi dengan manajemen Perumda Pasar Joyoboyo. Hasilnya belum berubah. Pengelola tetap berpegang pada aturan tertulis.

Sementara itu, pedagang meminta Pemerintah Kota Kediri turun tangan. Konflik ini memperlihatkan ironi pengelolaan pasar daerah. Perumda dituntut meningkatkan pendapatan dan menata administrasi. Pedagang membutuhkan pasar yang ramai dan biaya usaha yang masuk akal.

Ketika biaya dinaikkan sementara pembeli tak kunjung bertambah, siapa yang sebenarnya sedang diselamatkan: pasar atau pendapatan pengelola? Pertanyaan itu kini berada di meja Pemerintah Kota Kediri sebagai pemilik modal Perumda Pasar Joyoboyo. (ade/wan)