
Surabaya Pojokkiri.com – Bulan Agustus menjadi momentum penuh makna bagi Rafiullah, pengusaha asal Peshawar, Pakistan, yang telah lama menetap di kawasan Ampel, Surabaya. Pria yang akrab disapa Baba Rafi itu merayakan Hari Kemerdekaan Pakistan sekaligus menyambut peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dalam suasana penuh syukur dan persaudaraan.
Kemerdekaan Pakistan diperingati setiap 14 Agustus, sementara Indonesia merayakan kemerdekaannya pada 17 Agustus. Kedekatan tanggal bersejarah kedua negara tersebut menjadi kesempatan bagi Baba Rafi untuk mempererat hubungan sosial dan budaya dengan masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya.
Baba Rafi mengundang tetangga, pengurus RT dan RW, serta sejumlah pelajar asal Pakistan untuk mengikuti acara syukuran sekaligus menikmati kuliner khas Timur Tengah dan Pakistan di MKR Restoran, kawasan Ampel, Surabaya, Kamis (13/8/2026) malam.
Bagi Baba Rafi, kemerdekaan bukan sekadar perayaan tahunan. Di baliknya terdapat sejarah panjang perjuangan dan pengorbanan yang menurutnya perlu terus dihargai oleh generasi penerus.
Ia mengatakan kemerdekaan sebuah bangsa lahir melalui perjuangan yang tidak mudah. Karena itu, momentum kemerdekaan semestinya menjadi pengingat bagi setiap warga untuk menghargai perjuangan para pendahulu sekaligus menjaga persatuan.
“Bagi saya, kemerdekaan adalah kebahagiaan sekaligus pengingat atas perjuangan panjang sebuah bangsa. Pakistan dan Indonesia sama-sama memiliki sejarah perjuangan yang penuh pengorbanan. Karena itu, kemerdekaan harus kita syukuri dan dihormati,” ujar Baba Rafi.
Dalam kesempatan tersebut, Baba Rafi juga menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh masyarakat Indonesia yang akan memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026.
Ia berharap hubungan Indonesia dan Pakistan semakin erat, tidak hanya dalam hubungan antarpemerintah, tetapi juga melalui persahabatan masyarakat kedua negara.
“Selamat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81. Semoga Indonesia dan Pakistan terus menjadi sahabat yang baik, saling menghormati, serta bersama-sama berkembang menjadi negara yang semakin maju dan sejahtera,” katanya.
Menurutnya, persamaan nilai sosial dan keagamaan yang dimiliki masyarakat kedua negara dapat menjadi salah satu modal untuk memperkuat hubungan persaudaraan.
Pemilihan kawasan Ampel sebagai lokasi kegiatan juga memiliki arti tersendiri. Kawasan tersebut dikenal sebagai salah satu pusat kehidupan masyarakat Muslim dan menjadi ruang perjumpaan berbagai budaya di Surabaya.
Melalui sajian kuliner khas Arab dan Pakistan, Baba Rafi ingin menghadirkan suasana perkenalan budaya yang lebih dekat dan informal. Menurutnya, interaksi langsung dengan masyarakat merupakan cara penting untuk membangun pemahaman dan menghilangkan jarak antarkelompok.
“Ketika kita tinggal di Indonesia, tentu penting bagi kami untuk berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Dari komunikasi dan pergaulan sehari-hari, kami bisa lebih memahami budaya Indonesia. Sebaliknya, kami juga ingin memperkenalkan keramahan masyarakat Pakistan, termasuk kuliner dan tradisi yang kami miliki,” jelasnya.
Ia berharap kegiatan sederhana tersebut dapat menjadi bagian dari upaya membangun persahabatan yang lebih kuat antara warga Pakistan dan masyarakat Indonesia, khususnya di Surabaya.
Suasana syukuran semakin hangat ketika para peserta bersama-sama meneriakkan yel-yel persahabatan. Seruan “Indonesia Merdeka!” disambut dengan “Zindabad Pakistan!” yang bermakna “Jayalah Pakistan”.
Momen tersebut menjadi simbol sederhana tentang bagaimana perbedaan latar belakang, kewarganegaraan, dan budaya dapat dipertemukan melalui persahabatan.
Bagi Baba Rafi, kemerdekaan kedua negara bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi juga tentang membangun masa depan yang lebih damai melalui hubungan antarmanusia.
Di tengah keberagaman masyarakat Surabaya, kegiatan tersebut menjadi gambaran bahwa persahabatan lintas negara dapat tumbuh dari lingkungan terdekat. Dari sebuah meja makan, percakapan sederhana, hingga perayaan kemerdekaan bersama, hubungan Indonesia-Pakistan dapat terus dirawat melalui sikap saling menghormati dan memahami (sul)

