Pojokkiri.com

Gak Bahaya Ta ? Cedera Tulang Belakang, Ini Penjelasan Dokter RS Elizabeth

Foto : Ilustrasi

 

Situbondo, Pojok Kiri
Spinal Cord Injury (SCI), cedera saraf pada tulang belakang, yang menghubungkan otak dengan saraf-saraf bagian ujung tubuh (perifer). Spinal cord atau saraf yang terletak di tulang belakang ini, memanjang dari otak, leher, punggung, hingga tulang ekor. Cedera pada SCI ini, merupakan salah satu cedera yang paling berbahaya bagi penderitanya, hingga bisa menyebabkan kecacatan atau kelumpuhan bagi penderita. Namun, apakah SCI ini bisa disembuhkan? Berikut akan kita kupas tuntas mengenai SCI untuk Kalian semua, tentunya bersama narasumber kita yang sudah ahli dibidangnya, yaitu dr. Antonio Inoki Poerdianto, SpOT (K).

”SCI ini meskipun berbahaya, namun ada pula yang bisa sembuh sempurna”, kata dokter yang akrab dipanggil Inoki ini. Jumat, (16/8/2024).

”SCI ada klasifikasinya, ada SCI komplit, adapula yang inkomplit atau sebagian. SCI dikatakan komplit ketika gejala yang muncul di penderita yaitu terdapat gangguan bergerak (motorik), gangguan indera peraba (sensoris), dan gangguan autonom seperti tidak dapat mengendalikan buang air kecil dan besar,” tuturnya.

“Jika tidak terdapat gangguan sensoris dan autonom, hanya terdapat gangguan motorik ringan, SCI ini bisa disembuhkan secara sempurna melalui pengobatan serta latihan fisik otot secara bertahap,” tambahnya.

Pria kelahiran Situbondo ini juga menjelaskan, tingkat keparahan dari SCI ini juga dilihat dari letak trauma atau letak benterun pada tulang belakangnya. Semakin tinggi benturannya, akan semakin banyak saraf-saraf yang terganggu, sesuai dengan gambaran dermatome saraf (lihat gambar). Misalnya seperti berita yang sedang hangat saat ini, jika terdapat kelumpuhan di daerah kaki, dan sebagian tangan, kemungkinan cedera terletak di tulang belakang C6 atau T1. Jadi, semakin tinggi yang terkena, yaa semakin banyak dan berat bagian tubuh yang mengalami kerusakan atau bahkan hingga kelumpuhan.

“Penyebab paling banyak dari SCI ini yaitu kecelakaan, kemudian jatuh dari ketinggian juga bisa, cedera saat olahraga, hingga trauma atau benturan langsung di bagian tulang belakang. Kecelakaan yang paling berat biasanya pada kecelakaan roda 4, dimana penderita kebanyakan tidak memakai sabuk pengaman. Faktor selanjutnya yaitu kecepatan, dengan kecepatan yang tinggi, bisa mengakibatkan SCI yang lebih parah ketika terjadi kecelakaan,” kata dokter spesialis tulang (orthopedi) ini.

“Tapi, tidak menutup kemungkinan kecelakaan roda 2 lebih ringan. Contohnya, ada penderita SCI dengan riwayat jatuh saat bersepeda santai atau gowes yaa. Yang membuat SCInya cukup berat adalah penderita ini membawa botol minum yang terbuat dari bahan plastik namun agak tebal, dan diletakkan di punggungnya. Naasnya ketika jatuh, botol minum tersebut terbentur batu kemudian langsung menghantam tulang belakangnya, sehingga terjadilah SCI ini,” ceritanya.

Dokter spesialis tulang lulusan Universitas Hasanuddin Makassar ini mengatakan, komplikasi dari SCI ini bermacam-macam. Bisa terjadi infeksi paru-paru akibat tirah baring yang lama, ataupun luka decubitus, yaitu luka yang disebabkan adanya tekanan terus menerus karena tirah baring yang lama juga. Karena kalau sudah terjadi kelumpuhan, penderita sudah tidak bisa melakukan aktivitas apapun. Bahkan ini bisa juga menyebabkan gangguan psikologis penderita yaa, karena pasti stress tidak bisa apa-apa sama sekali.”
Inoki menjelaskan.

“sampai saat ini penanganan yang paling benar pada SCI ini yaitu do no harm. Ketika ada orang kecelakaan dan dicurigai ada cedera tulang belakang, kita harus memindahkan secara hati-hati ke tempat yang aman. Jangan sampai dipindahkan secara paksa, apalagi sampai ditarik. Karena kita belum tahu pasti separah apa cederanya, untuk memninimalkan keparahan dari SCI itu sendiri.”

Dokter konsultan upper limb, hand, and microsurgery ini menambahkan, “kasus SCI ini masih menjadi tantangan yang besar bagi kami para orthopedic. Biasanya kalau sudah SCI komplit, penderita ini sulit untuk bisa sembuh total. Kecuali yang masih inkomplit, yaa masih bisa diselamatkan dengan usaha yang maksimal. Satu hal lagi yang paling penting yaitu, waktu untuk pertolongan pertama yang menjadi kuncinya. Semakin cepat kasus SCI ini tertangani, maka kerusakannya akan semakin minimal atau semakin sedikit. Meskipun sudah ada teknik stem cell, yaitu teknik regenerasi sel, tetap tidak akan menyembuhkan secara maksimal karena SCI ini sumbernya di saraf pusat yang tidak bisa regenerasi lagi. Beda dengan saraf perifer atau saraf yang diujung-ujung tubuh, masih dapat melakukan regenerasi ulang dengan teknik stem cell ini, tentunya dengan biaya yang tidak murah ya.

“Untuk kasus kematian sebenarnya kebanyakan bukan dari SCI nya langsung. Paling banyak yang terjadi yaa karena komplikasinya. Misalnya, karena tirah baring yang lama, penderita tidak bisa melakukan aktivitasnya, namun masih tetap nih konsumsi makanan junk food atau fast food. Nah hal inilah yang nantinya akan menyebabkan suatu sudden death phenomena, dimana penderita mengalami sesak tiba-tiba yang terjadi karena adanya penyumbatan lemak di pembuluh darah jantung. Yaa kembali, yang menyebabkan kematian justru penyakit jantungnya, tapi tetap didukung karena perubahan perilaku akibat SCI itu tadi,” kata dokter yang berusia 45 tahun ini.

Sementara harapannya, untuk menghindari kasus SCI ini, Kalian semua harus berhati-hati di jalan yaa, apalagi saat liburan tahun baru gini nih.

“Yang penting patuhi rambu lalu lintas, jaga fokus saat berkendara, dan jaga emosi juga ya saat di jalan. Kalau sudah ngantuk, yaa minggir dulu lah untuk istirahat, atau jangan gampang tersulut emosi yang akhirnya malah kebut-kebutan di jalan raya,” pesan dokter yang juga berpraktek di RS Elizabeth Situbondo ini. (Td/Inul)