Pojokkiri.com

Harga Telur Ambles Rp19 Ribu/Kg, Cak Hadi Gerak Cepat: Borong 200 Kg Hasil Panen Peternak.

KEDIRI, Pojokkiri.com — Pelatihan dan Peningkatan Sumber Daya Manusia Ekonomi Kreatif (Ekraf) Subsektor Periklanan di Favehotel Kediri, Sabtu (15/8/2026), mendadak berubah menjadi ruang advokasi bagi peternak rakyat.

Di tengah pembahasan soal branding, periklanan, dan pemasaran digital, seorang peserta yang juga peternak ayam petelur mengungkap persoalan yang jauh lebih konkret: harga telur di tingkat kandang anjlok hingga sekitar Rp19.000 per kilogram.

Keluhan itu langsung mendapat respons dari Anggota Komisi B DPRD Provinsi Jawa Timur, M. Hadi Setiawan alias Cak Hadi.

Alih-alih berhenti pada janji akan menindaklanjuti, Cak Hadi mengambil keputusan spontan di lokasi. Ia membeli hasil panen peternak tersebut sebanyak 200 kilogram, dengan harga di atas harga pasar tingkat kandang.

Hari ini ada peserta yang juga peternak, mengeluhkan harga jual telur dari kandang yang sangat rendah, sekitar Rp19 ribu. Sebagai komitmen kami di Komisi B untuk membantu masyarakat dan peternak, saya pribadi berinisiatif membeli hasil panen mereka satu kali panen sebanyak 200 kg dengan harga yang lebih tinggi,” ujar Cak Hadi.

Aksi tersebut membuat suasana pelatihan yang semula berkutat pada dunia periklanan dan ekonomi kreatif berubah menjadi perbincangan tentang nasib pelaku usaha kecil yang berhadapan langsung dengan gejolak harga.

Bagi peternak, persoalannya sederhana tetapi berat: biaya produksi terus berjalan, sementara harga jual justru tertekan.

Ketika harga di tingkat kandang merosot, margin peternak ikut tergerus. Jika berlangsung lama, kondisi tersebut dapat mengancam keberlangsungan usaha peternakan rakyat.

Cak Hadi memilih merespons keluhan tersebut dengan tindakan langsung.

Namun aksi itu tidak berhenti pada pembelian 200 kilogram telur.

Telur yang diborong tersebut rencananya akan dibagikan secara gratis kepada masyarakat di sekitar lingkungan kandang peternak.

Dengan demikian, pembelian tersebut sekaligus menjadi bentuk dukungan kepada peternak sekaligus memberikan manfaat langsung kepada warga.

Aksi spontan itu mendapat apresiasi dari peserta pelatihan yang mayoritas merupakan pemuda dan pemudi Kediri.

Di tengah agenda peningkatan kapasitas ekonomi kreatif, mereka tidak hanya mendapatkan materi mengenai branding, kemasan, dan pemasaran digital dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur.

Mereka juga menyaksikan bagaimana keluhan pelaku usaha kecil dapat direspons secara konkret oleh wakil rakyat.

Meski demikian, aksi borong 200 kilogram telur tentu bukan jawaban permanen terhadap persoalan harga telur.

Membeli satu kali panen dapat membantu satu peternak untuk sesaat. Tetapi persoalan harga di tingkat kandang membutuhkan kebijakan yang lebih besar dan berkelanjutan.

Di sinilah peran pemerintah dan DPRD kembali diuji: bukan hanya hadir ketika harga sudah jatuh, tetapi memastikan peternak memiliki perlindungan ketika pasar bergerak tidak bersahabat.

Sebab bagi peternak rakyat, yang dipertaruhkan bukan sekadar harga telur.

Di balik setiap kilogram telur ada biaya pakan, tenaga, kandang, listrik, obat, risiko produksi, dan keberlangsungan hidup keluarga.

Aksi Cak Hadi setidaknya mengirimkan satu pesan: keluhan peternak tidak selalu harus berakhir di ruang rapat. Kadang, respons pertama justru dimulai dengan tindakan nyata.

Tetapi setelah 200 kilogram telur diborong, pekerjaan rumah yang lebih besar tetap menunggu: bagaimana memastikan peternak tidak terus-menerus berada di posisi paling lemah ketika harga komoditas jatuh? (ade/wan)