
Lamongan,Pojokkiri.com-Digadang-gadang menjadi pusat perbelanjaan terbesar di wilayah Pantai Utara (Pantura) meliputi Lamongan, Tuban, dan Bojonegoro saat diresmikan Agustus 2011 lalu, kondisi Lamongan Plaza kini memprihatinkan. Memasuki usia 15 tahun sejak beroperasi penuh (atau 28 tahun sejak awal perencanaan/pembebasan lahan), mal yang dibangun menggunakan dana APBD bertahap tahun 2008-2010 senilai Rp 62,97 miliar ini tampak sepi dan lengang, ibarat pepatah hidup segan mati tak mau.
Untuk membuktikan kondisi riil di lapangan, wartawan Pojok Kiri melakukan pantauan langsung ke mal yang berdiri di atas bekas lahan Pasar Lamong Raya, Jalan Panglima Sudirman ini pada Selasa (11/8) pagi sekitar pukul 10.00 WIB.
Saat memasuki area parkir, denyut nadi perekonomian di plaza ini terasa sangat lambat. Hanya terlihat belasan sepeda motor dan sekitar 8 unit mobil yang terparkir. Tarif parkir sendiri dipatok normal, yakni Rp 2.000 untuk roda dua dan Rp 5.000 untuk roda empat.
Menelusuri bagian dalam gedung, aktivitas di lantai 1 tampak didominasi oleh stan-stan makanan. Menariknya, di lantai dasar ini juga terdapat stan pakaian bekas (thrifting) yang menawarkan promo cuci gudang Rp 100 ribu mendapatkan tiga potong pakaian.
Naik ke lantai 2, pemandangan serupa terlihat di mana stan kuliner masih mendominasi ruangan. Sementara itu, lantai 3 yang menjadi tumpuan hiburan diisi oleh bioskop New Star Cineplex (NSC) dan NAV Karaoke Keluarga.
Meski suasana koridor mal terbilang sepi pengunjung, Lamongan Plaza sebenarnya masih memiliki daya tarik dari beberapa merek dagang berskala nasional. Nama-nama besar seperti KFC, Mr. D.I.Y, Richeese Factory, dan Beli Kopi terpantau tetap membuka gerai mereka di sana.

Sepinya aktivitas di hari kerja ini dibenarkan oleh Rozikin, salah satu pegawai Lamongan Plaza. Saat diwawancarai oleh Pojok Kiri, ia mengungkapkan bahwa mal ini hanya mengandalkan momentum tertentu untuk menyedot massa.
“Lamongan Plaza ramainya weekend Sabtu dan Minggu, Pak! Dan juga bila ada event pameran di Lamongan Plaza pasti ramai,” ujar Rozikin menjelaskan situasi terkini kepada Pojok Kiri, Selasa (11/8/2026).
Rozikin menambahkan bahwa selain hari libur akhir pekan dan adanya acara khusus, praktis tidak banyak aktivitas dinamis yang terjadi. “Itu hari-hari ramai, Pak. Selain Sabtu dan Minggu, Lamongan Plaza sepi,” pungkasnya.
Proyek mercusuar yang menelan dana puluhan miliar ini tampaknya masih harus berjuang keras untuk menemukan formula tepat agar bisa ramai setiap hari, bukan hanya menjadi destinasi musiman di akhir pekan.(lut)
Editor: Zainul Lutfi

