Pojokkiri.com

Makna “Habis Gelap Terbitlah Terang” Menurut Prof. Mia Amiati dalam Refleksi Hari Kartini

Refleksi Hari Kartini Bersama Prof. Mia Amiati

Surabaya Pojokkiri.com Dalam peringatan Hari Kartini yang jatuh pada 21 April 2025, bangsa Indonesia kembali mengenang warisan besar dari Raden Ajeng Kartini, tokoh emansipasi wanita yang telah menyalakan lentera harapan bagi perempuan. Salah satu frasa paling kuat yang diwariskan oleh Kartini, “Habis Gelap Terbitlah Terang”, menjadi titik sorot dalam refleksi tahun ini.

Prof. (HCUA) Dr. Mia Amiati, S.H., M.H., CMA., CSSL., hadir dengan pandangan yang mendalam, mengupas nilai-nilai filosofis dari kalimat ikonik tersebut. Menurutnya, makna dari frasa itu bukan hanya kutipan sejarah, tetapi juga menjadi pelita yang masih relevan untuk menuntun langkah di zaman modern ini.

“Habis Gelap Terbitlah Terang”: Cahaya di Ujung Kesulitan

Prof. Mia menjelaskan bahwa ungkapan tersebut lebih dari sekadar retorika. Ia adalah filosofi hidup yang sarat harapan dan kekuatan.

“Frasa ini bukan janji kosong, melainkan keyakinan bahwa setiap masa sulit akan berakhir, dan di balik kegelapan ada cahaya yang menanti,” ujar Prof. Mia dengan penuh keteguhan.

Dalam pandangan beliau, “gelap” mewakili fase-fase sulit dalam hidup — entah itu kegagalan, kekecewaan, atau tantangan berat. Sementara “terang” menggambarkan harapan, solusi, dan kebangkitan yang akan datang. Inilah kekuatan dari frasa Kartini yang tak lekang oleh waktu: mengajarkan bahwa tidak ada malam yang tak berujung.

Tiga Pilar Makna: Siklus, Harapan, dan Ketabahan

Lebih lanjut, Prof. Mia menguraikan tiga dimensi filosofis dari frasa “Habis Gelap Terbitlah Terang”:

Siklus Kehidupan
Kehidupan bergerak dalam siklus. Kegelapan bukan akhir, tetapi bagian dari perjalanan menuju terang. Kesadaran ini membentuk pribadi yang tangguh dan tidak mudah menyerah.

Harapan yang Menyala
Setiap kesulitan membawa serta secercah harapan. Frasa ini menanamkan optimisme bahwa masa depan selalu menawarkan peluang untuk bangkit.

Ketabahan sebagai Kunci
Perjalanan dari gelap ke terang bukan proses instan. Dibutuhkan kesabaran, ketabahan, dan kemauan untuk terus berjalan meski jalannya tak mudah.

Inspirasi Kartini dalam Langkah Kehidupan Modern

Dalam refleksinya, Prof. Mia juga menekankan bagaimana makna ini bisa diimplementasikan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari:

“Ketika kita terjerat dalam kesulitan, frasa ini hadir sebagai pengingat bahwa kita tidak sendirian dan bahwa situasi ini tidak akan berlangsung selamanya,” jelasnya.

Ia mencontohkan bagaimana nilai-nilai Kartini bisa diterapkan dalam menghadapi kegagalan, mengubah tantangan menjadi kesempatan, dan bangkit dengan semangat baru. Filosofi ini menjadi panduan untuk menjalani hidup dengan penuh keberanian dan rasa percaya diri.

Pesan Kartini untuk Perempuan Masa Kini

Di era digital dan globalisasi, tantangan perempuan telah bergeser, namun semangat Kartini tetap relevan. Ketidakadilan, kesenjangan, dan keterbatasan masih menjadi “kegelapan” yang harus diterangi dengan semangat perjuangan.

“Semangat pantang menyerah, keberanian untuk bersuara, dan keyakinan bahwa setiap perempuan berhak meraih terang dalam hidupnya—itulah warisan sejati Kartini,” pungkas Prof. Mia.

Pesan ini menjadi ajakan bagi seluruh perempuan Indonesia, bahwa mereka adalah Kartini masa kini. Mereka adalah penerus cahaya yang dahulu dinyalakan dengan pena dan keberanian oleh R.A. Kartini.

Selamat memperingati Hari Kartini untuk seluruh perempuan Indonesia.
Teruslah menjadi cahaya yang menuntun perubahan, dari gelap menuju terang yang hakiki (Sam)