
Situbondo, Pojok Kiri
Agung Hariyanto Pegiat Cagar Budaya dan Pengawas Yayasan Museum Balumbung kota Santri, meminta kepada Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo untuk mengganti nama Pendopo Aryo menjadi Pendopo Suradikara Situbondo. Pasalnya, dengan perubahan nama tersebut identitas lokal sejarah Situbondo tidak akan hilang sesuai sejarah era Majapahit.
” Mengembalikan identitas lokal sejarah murni Situbondo, dengan mengganti nama Pendopo Aryo Situbondo menjadi Pendopo Suradikara atau Pendopo Suradikara Situbondo, ” katanya kepada Pojok Kiri melalui telepon selulernya, Rabu, (9/4/2025)
Tak hanya itu saja, Agung sapaan akrab pria asal Asembagus ini mengungkapkan bahwa, dalam sejarah yang tertulis di Kitab Negarakertagama karya Mpu Parapanca, salah satu orang kepercayaan Maharaja Sri Rajasanegara anak dari Tribhuwana Tunggadewi atau dikenal sebagai Raja Majapahit ke 4. Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk di tahun 1300-an, adalah puncak kejayaan dengan mempersatukan Nusantara atau Nuseantoro. Hayam Wuruk secara rutin berkunjung ke wilayah Patukangan, disambut pesta pora dengan menciptakan kegembiraan di hati masyarakat Kadipaten Patukangan (Panarukan). Saat itu, menurut Agung kadipaten masih diperintah Adipati Arya Suradikara. Dengan dasar alasan itu ia meminta perubahan nama baru pendopo.
” Demi mengembalikan identitas lokal sejarah ya. Dan nama itu harus diperdakan,” terangnya.
Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo hingga saat ini belum memberikan keterangan resmi terkait adanya usulan perubahan nama pendopo tersebut.
Diketahui dalam pemerintahan sebelumnya, pada masa Bupati Karna Suswandi nama pendopo itu diberi nama Pendopo Aryo Situbondo. Konon, nama Aryo yang memiliki nama lengkap Aryo Gajah Situbondo merupakan tokoh dalam legenda yang dipercayai sebagai asal-usul nama Kabupaten Situbondo. Dalam legenda itu, diceritakan Pangeran Aryo Gajah ditendang jauh ke arah timur hingga ke daerah Situbondo. Itu terjadi lantaran adanya pertarungan Joko Taruno dengan Pangeran Aryo Gajah. Dalam pertarungan sengit itu, Pangeran Aryo Gajah kalah. Sang Pangeran yang ditendang ditandai dengan ditemukannya ikat di kepalanya. (odheng). (Inul)

