Pojokkiri.com

Tragedi dan Mitos Rawa Menongo: Legenda Naga Bersisik Emas Kembali Jadi Sorotan” (Bag:2)

 

Kapolsek Sukodadi Iptu Moch Sokeb, S.H (paling depan) sedang melakukan olah TKP di Rawa Menongo lokasi tenggelamnya 4 pelajar.(Pojok Kiri for Zainul Lutfi)

Lamongan, Pojok Kiri.com-Suasana duka menyelimuti Desa Menongo, Kecamatan Sukodadi, Kabupaten Lamongan pada Selasa (17/2) pagi. Empat anak dilaporkan tenggelam saat beraktivitas di Rawa Menongo atau yang akrab disapa Waduk Balong Ganggang. Dalam insiden maut tersebut, tiga siswi Sekolah Dasar (SD) dinyatakan meninggal dunia, sementara satu korban lainnya berhasil selamat.

Kapolsek Sukodadi, Iptu Moch Sokeb, S.H., mengonfirmasi kejadian memilukan ini. Beliau menyebutkan bahwa seluruh korban meninggal merupakan warga setempat. Lokasi ini memang dikenal memiliki tingkat kerawanan tinggi, terutama saat memasuki musim penghujan ketika debit air memenuhi rawa.

“Sebelum musibah tiga pelajar wanita ini, pada tahun 2017 lalu pernah terjadi kasus serupa. Seorang pemancing dari luar kota meninggal dunia akibat tenggelam di lokasi yang sama,” terang Iptu Moch Sokeb saat dihubungi melalui telepon.

Pihak kepolisian bersama warga sebenarnya telah berupaya meminimalisir risiko dengan memasang papan peringatan di sekitar area waduk. Iptu Sokeb mengimbau agar masyarakat lebih waspada dan berhati-hati saat beraktivitas di sekitar Rawa Menongo atau dikenal juga Waduk Balong Ganggang guna menghindari terulangnya tragedi serupa.

Sisi Mistis Waduk Balong Ganggang

Di balik data teknis kerawanan wilayah tersebut, masyarakat setempat juga meyakini adanya unsur non-teknis atau mistis yang menyelimuti Rawa Menongo. Mbah Kromo (65), salah satu warga senior, mengungkapkan bahwa lokasi tersebut dikenal cukup “wingit” atau angker.

Menurut penuturannya, terdapat kepercayaan lokal mengenai sosok penunggu berupa naga bersisik emas. Ia berpesan agar siapa pun yang datang ke lokasi tersebut senantiasa menjaga tata krama.

“Paling tidak baca salam dan kulonuwun (permisi) dulu. Tidak ada salahnya bersopan santun di manapun, karena kita harus percaya bahwa di dunia ini ada hal gaib,” pungkas Mbah Kromo.

Kini, kasus tersebut dalam penanganan pihak berwajib, dan warga diimbau untuk menjauh dari bibir rawa jika tidak memiliki kepentingan mendesak, mengingat kondisi cuaca yang masih ekstrem.(lut)

 

Editor: Zainul Lutfi

Sumber: WWW.POJOK KIRI.COM DAN KORAN HARIAN PAGI POJOK KIRI