Pojokkiri.com

400 Atlet Serbu Kediri, Barongsai Jadi Mesin Sport Tourism atau Sekadar Ramai di Arena?

KEDIRI, pojokkiri.com — Kehadiran sekitar 400 atlet dan official dari berbagai daerah tentu membuka peluang perputaran ekonomi bagi Kota Kediri. Selama kejuaraan berlangsung, kebutuhan akomodasi, konsumsi, transportasi hingga belanja oleh-oleh berpotensi ikut menggerakkan usaha lokal.

Pemerintah Kota Kediri menempatkan Kejuaraan Barongsai Walikota Kediri Cup 2026 sebagai bagian dari strategi sport tourism. Kehadiran peserta dari luar daerah diharapkan tidak berhenti pada kemeriahan di GOR Jayabaya, tetapi turut memberi dampak ekonomi bagi berbagai sektor usaha di luar arena pertandingan.

Indikasinya mulai terlihat. Sejumlah hotel mendapat tambahan tamu. Pelaku kuliner, UMKM, hingga pusat oleh-oleh juga mendapat kunjungan dari rombongan peserta dan pendamping. Tetapi, keramaian belum otomatis berarti dampak ekonomi yang besar.

Di sinilah ukuran keberhasilan sport tourism menjadi penting. Seberapa besar kenaikan tingkat hunian hotel? Berapa nilai transaksi yang tercipta selama kejuaraan? Seberapa besar omzet UMKM bertambah? Dan yang tak kalah penting, berapa lama efek ekonomi tersebut bertahan setelah pertandingan berakhir? Sejauh materi yang tersedia, angka-angka tersebut belum disampaikan.

Wakil Wali Kota Kediri, K.H. Qowimuddin Thoha (Gus Qowim), mengatakan semakin banyak pengunjung yang datang, semakin besar pula peluang ekonomi yang tercipta bagi masyarakat. “Semakin banyak pengunjung yang datang, semakin banyak yang belanja kuliner, beli oleh-oleh, dan menginap di sini. Ini tentu menggerakkan ekonomi warga,” jelas Gus Qowim, Sabtu (3/10/2026).

Pernyataan tersebut memperlihatkan arah kebijakan Pemkot Kediri dalam menjadikan event olahraga sebagai magnet kunjungan sekaligus penggerak ekonomi lokal. Namun, untuk menyebut sebuah event berhasil sebagai sport tourism, keramaian saja belum cukup. Narasi tersebut idealnya harus ditopang data yang konkret dan terukur.

Sebab, mendatangkan ratusan orang adalah satu hal; memastikan uang mereka benar-benar berputar dan memberi manfaat bagi usaha warga adalah hal lain.

Kejuaraan Barongsai Walikota Kediri Cup 2026 setidaknya telah menunjukkan kemampuan Kota Kediri menarik peserta dari luar daerah. Tantangan berikutnya adalah memastikan keramaian di GOR Jayabaya tidak berhenti sebagai tontonan, tetapi benar-benar bertransformasi menjadi transaksi, pendapatan, dan manfaat ekonomi yang terukur bagi masyarakat.

Dengan kata lain, ujian sesungguhnya sport tourism bukan hanya seberapa ramai sebuah event digelar, melainkan seberapa jauh keramaian itu meninggalkan jejak ekonomi bagi warga. (ade/wan)