KEDIRI, pojokkiri.com — Bukan sekadar kirab bendera. Dari halaman Pemerintah Kota Kediri hingga menembus kawasan Gunung Klotok, Merah Putih raksasa menjadi simbol perlawanan terhadap sekat-sekat organisasi dan ego kelompok.
Pemandangan itu tersaji Minggu (16/8/2026), ketika berbagai elemen masyarakat dan organisasi kepemudaan bahu-membahu mengarak bendera Merah Putih berukuran raksasa untuk dikibarkan di Puncak Watu Bengkah. Di tengah perbedaan latar belakang dan wadah organisasi, mereka memilih berdiri dalam satu barisan: Merah Putih.
Sebanyak 30 perwakilan pemuda DPD KNPI Kota Kediri ikut mengawal perjalanan tersebut. Mereka berasal dari berbagai organisasi, termasuk Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), serta elemen kepemudaan lainnya.
Bendera raksasa itu dipapah bersama sepanjang perjalanan. Tak ada sekat organisasi. Tak ada panggung untuk menunjukkan siapa paling besar. Yang tampak justru satu warna: merah putih.
Ketua DPD KNPI Kota Kediri, Munjidul Ibad, mengatakan kolaborasi lintas organisasi sengaja dibangun untuk memperkuat silaturahmi sekaligus menanamkan nasionalisme di kalangan generasi muda.
“Kami melibatkan lintas OKP, ada dari LDII, IPNU, IPM, dan elemen lainnya. Ini adalah salah satu bentuk memperdalam jiwa nasionalisme dan cinta pada Indonesia. Kehadiran bersama ini menjadi momentum untuk mempertebal rasa kebangsaan kita,” ujar Ibad di sela-sela kirab.
Namun, menurut Ibad, tantangan pemuda hari ini bukan hanya perubahan zaman. Ada musuh yang jauh lebih dekat: individualisme dan egosentrisme kelompok.
Kemerdekaan, kata dia, tidak cukup diterjemahkan dengan seremoni tahunan. Pemuda harus mampu membaca perubahan, peduli terhadap persoalan sosial, sekaligus membangun kepemimpinan dan kemandirian secara bersama-sama.
“Makna kemerdekaan bagi pemuda saat ini adalah bagaimana kita bisa terus aktif beradaptasi dengan zaman, sekaligus mengikis egosentrisme. Pemuda harus lebih peduli pada isu sosial, memperkuat jiwa kepemimpinan, dan terus membangun kemandirian bersama,” katanya.
Pesan itu seolah menemukan bentuknya di sepanjang jalur kirab. Puluhan pemuda dengan latar belakang organisasi berbeda memilih memikul beban yang sama. Bendera yang dibawa bukan milik satu kelompok. Ia milik semua.
Warga yang menyaksikan arak-arakan di sepanjang perjalanan pun memberikan apresiasi. Dari jalanan hingga kawasan Gunung Klotok, semangat gotong royong itu menjadi tontonan sekaligus pesan terbuka: kebhinekaan tidak harus berhenti sebagai slogan.
Puncaknya, Merah Putih raksasa dikibarkan di Puncak Watu Bengkah. Di ketinggian itu, simbol persatuan tersebut seakan mengirim pesan sederhana namun keras: perbedaan boleh ada, tetapi Merah Putih harus tetap menjadi titik temu.
Di tengah zaman yang kian mendorong orang berjalan sendiri-sendiri, pemuda Kediri memilih menunjukkan sebaliknya. Mereka berjalan bersama, memikul bersama, dan membawa satu bendera yang sama.Merah Putih. (ade/wan)

