Pojokkiri.com

GAMBYOK Gebrak Kecemasan Persalinan, 95 Mahasiswa Kebidanan Turun Langsung Dampingi Warga

KEDIRI, pojokkiri.com — Ketakutan menghadapi persalinan, kecemasan ibu hamil, hingga ancaman diabetes gestasional dan stunting kini menjadi sasaran serius di Desa Gambyok, Kecamatan Grogol, Kabupaten Kediri. Bukan sekadar sosialisasi seremonial, sebanyak 95 mahasiswa kebidanan Poltekkes Kemenkes Malang diterjunkan langsung dari rumah ke rumah untuk mengawal kesehatan warga.

Program bertajuk GAMBYOK (Gerakan Masyarakat Berkarya, Optimalkan Kesehatan) resmi diluncurkan di Balai Desa Gambyok, Kamis (20/8/2026). Program ini membawa model pendampingan yang lebih personal melalui skema One Student One Client (OSOC)—satu mahasiswa mendampingi satu keluarga sasaran.

Pendekatan itu membuat pendampingan kesehatan tidak lagi berhenti di ruang kelas, aula desa, atau lembaran brosur. Mahasiswa turun langsung menyentuh persoalan yang dihadapi warga, terutama ibu hamil yang membutuhkan perhatian ekstra menjelang persalinan.

Salah satu intervensi yang paling dirasakan manfaatnya adalah pelatihan hypnobirthing. Teknik relaksasi dan sugesti positif tersebut diberikan secara berkala untuk membantu ibu hamil menekan rasa takut, stres, dan kecemasan ketika menghadapi proses kelahiran.

Tak berhenti pada urusan psikologis, pendampingan juga menyasar persoalan fisik. Kondisi gizi warga dipantau secara ketat untuk mencegah risiko Diabetes Melitus Gestasional sekaligus menekan ancaman stunting sejak masa kehamilan.

Ketua Program Studi D-III Kebidanan Kediri, Dr. Finta Isti Kundarti, M.Keb, mengatakan kesehatan mental ibu hamil tidak boleh dipandang sebagai persoalan sampingan. Kecemasan yang dibiarkan, menurutnya, justru dapat memengaruhi kesiapan ibu dalam menghadapi persalinan.

“Melalui skema satu mahasiswa satu pasien, kami mengaplikasikan hypnobirthing untuk memberikan sugesti positif agar ibu hamil tidak cemas menghadapi persalinan. Dampaknya sangat nyata untuk kesehatan mental dan fisik ibu,” ujar Finta.

Program GAMBYOK pun menjadi semacam gerakan jemput bola kesehatan, ketika tenaga pendamping tidak menunggu warga datang mencari bantuan, melainkan hadir langsung ke tengah kehidupan masyarakat.

Kepala Desa Gambyok, Gunawan, mengapresiasi perubahan pola pikir warganya setelah mendapat pendampingan intensif. Menurut dia, kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat bukan hanya membawa pengetahuan kesehatan, tetapi juga menciptakan rasa nyaman dan dukungan moral bagi ibu hamil serta keluarga yang memiliki balita.

Perubahan itu dinilai penting di tengah masih adanya persoalan kesehatan yang kerap terlambat ditangani akibat minimnya pengetahuan dan kebiasaan masyarakat untuk melakukan pencegahan sejak dini.

Pendampingan GAMBYOK sendiri tidak hanya menyasar ibu hamil. Program tersebut menjangkau seluruh siklus kehidupan warga, mulai dari remaja, calon ibu, ibu hamil, hingga balita.

Sebanyak 95 mahasiswa kebidanan kini menjadi bagian dari gerakan tersebut, dengan pola pendampingan yang berlangsung secara langsung dan berkelanjutan di lingkungan warga.

Program akan terus berjalan hingga memasuki tahap pemaparan hasil dan evaluasi pada awal September 2026 mendatang.

Jika pola pendampingan ini benar-benar mampu mengubah perilaku kesehatan masyarakat, Desa Gambyok bukan hanya sedang menjalankan sebuah program. Desa kecil di Kecamatan Grogol itu tengah menguji sebuah gagasan besar: bahwa mencegah kecemasan, penyakit, dan stunting harus dimulai sebelum semuanya terlambat. (ade/wan)