Pojokkiri.com

Ikapete Pasang Badan Bela Gus Kikin, Sebut Pernyataan Gus LR Cenderung Sarat Kepentingan

Alumni Pondok Pesantren Tebuireng (Ikapete) Jombang, Yusuf Hidayat

Jombang, Pojokkiri.comPernyataan warga Nahdlatul Ulama (NU) asal Situbondo, HRM atau Gus LR, mengenai dugaan dukungan Presiden Prabowo Subianto terhadap KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU menuai kritik keras.

Alumni Pondok Pesantren Tebuireng (Ikapete) Jombang, Yusuf Hidayat, menilai pernyataan Gus LR tersebut tidak berdasar dan cenderung menjadi fitnah terhadap sosok Gus Kikin.

Yusuf menilai Gus LR tidak memahami secara utuh sosok Gus Kikin, khususnya kiprahnya di bidang keilmuan dan pesantren.

“Menurut saya, LR tidak memahami sosok KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin. Beliau beberapa kali menulis buku dan memiliki rutinan ngaji bersama para ustaz. Beliau sendiri yang membacanya,” ujar Yusuf, pada Kamis (20/08).

Menurut Yusuf, Gus Kikin selama ini dikenal memiliki aktivitas yang kuat di lingkungan pesantren. Selain mengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Gus Kikin juga aktif menulis dan mengajarkan kitab kuning kepada para santri.

Karena itu, Yusuf mempertanyakan dasar pernyataan Gus Lilur yang mengaitkan Gus Kikin dengan dugaan jejaring kekuasaan untuk memenangkan kontestasi Ketua Umum PBNU.

Ia menilai tudingan tersebut tidak semestinya disampaikan tanpa bukti yang jelas.

“Yang dikatakan LR adalah ketidakpahaman dan disinyalir cenderung fitnah,” tegas Yusuf.

Yusuf bahkan mengaitkan pernyataan Gus LR dengan dinamika politik menjelang Muktamar ke-35 NU.

Ia menduga narasi yang disampaikan Gus LR memiliki kepentingan tertentu dalam kontestasi kepemimpinan PBNU.

“Saya menilai Lilur diduga adalah buzzer calon Ketua Umum PBNU,” kata Yusuf.

Namun, tudingan tersebut merupakan penilaian Yusuf. Belum ada penjelasan lebih lanjut mengenai kandidat yang dimaksud maupun bukti yang mendasari tuduhan tersebut.

Sebelumnya, Gus LR memang meminta agar tidak ada pihak yang membawa nama Presiden Prabowo Subianto ataupun menggunakan fasilitas kekuasaan untuk kepentingan politik pribadi dalam perebutan kepemimpinan PBNU pada Muktamar ke-35 NU.

Gus LR mengaku menerima informasi mengenai dugaan jejaring yang melibatkan sembilan pembantu Presiden di sekitar kekuasaan.

Sejumlah nama yang disebut antara lain Menteri Sosial Saifullah Yusuf, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Wakil Menteri Sekretaris Negara Juri Ardiantoro, Menteri Agama Nasaruddin Umar dan Menteri Haji Irfan Yusuf.

“Informasi yang saya terima mereka menginginkan KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU dan KH Miftahul Akhyar sebagai Rais Aam,” kata Gus LR dalam keterangannya, Selasa (18/8/2026).

Yusuf Soroti Rekam Jejak Gus Kikin

Yusuf kemudian mengingatkan publik agar melihat Gus Kikin berdasarkan rekam jejaknya di dunia pesantren, bukan semata-mata melalui isu politik yang berkembang menjelang Muktamar NU.

KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin merupakan pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Ia lahir di Jombang pada 17 Agustus 1958 dan merupakan cicit Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari, pendiri NU sekaligus pendiri Pondok Pesantren Tebuireng.

Gus Kikin juga memiliki latar belakang pendidikan pesantren dan pendidikan formal. Ia pernah belajar di Pesantren Seblak, Jombang, kemudian menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta pada 1975–1979.

Sebelum aktif penuh mengurus pesantren, Gus Kikin juga memiliki pengalaman di dunia usaha.

Sejak 2020, Gus Kikin dipercaya meneruskan kepengasuhan Pondok Pesantren Tebuireng setelah wafatnya KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah.

Di lingkungan pesantren, Gus Kikin juga aktif mengaji kitab kuning. Salah satunya Adab al-Alim wa al-Muta’allim karya Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari yang dikaji bersama para santri.

Ia juga menulis sejumlah karya, termasuk Hadratussyaikh KH M. Hasyim Asy’ari, Pemersatu Umat Islam Indonesia dan Syarah Kitab Qanun Asasi. Gagasannya juga dituangkan melalui rubrik Serambi Pengasuh di Majalah Tebuireng.

Bagi Yusuf, rekam jejak tersebut menunjukkan bahwa Gus Kikin memiliki akar kuat dalam tradisi keilmuan dan pesantren.

Karena itu, ia meminta agar kontestasi menjelang Muktamar ke-35 NU tidak diwarnai tudingan maupun narasi yang berpotensi merusak reputasi tokoh tertentu.

Yusuf menegaskan kritik terhadap calon pemimpin NU semestinya disampaikan secara objektif dan berbasis fakta, bukan melalui informasi yang belum teruji kebenarannya.

“Sampai berita ini ditayangkan, wartawan masih terus berupaya mengonfirmasi pihak yang bersangkutan untuk memperoleh tanggapan dan klarifikasi atas pernyataan tersebut.” pungkasnya (gat/sul).