Pojokkiri.com

Diangkat Menjadi Pegawai Negeri Sipil, Kisah Penuh Inspirasi Seorang Anak Buruh Tani

Muhammad Taisir dan keluarga saat wisuda di Universitas Mataram

Jakarta, Pojok Kiri – Menjadi bagian dari pegawai negeri sipil (PNS) merupakan impian banyak orang, namun tak sedikit yang terkendala dalam mewujudkan impian tersebut. Sehingga mau tidak mau impiannya sirna untuk menjadi kenyataan.

Berbeda dengan nasib pria yang satu ini, sosok anak petani yang bernama Muhammad Taisir sebelumnya tidak pernah terpikirkan untuk menjadi bagian dari pegawai negeri sipil. Pria yang merupakan anak pertama di keluarga ini berasal dari sebuah wilayah kecil di Lombok, tepatnya Dusun Jabon, Kecamatan Pringgarata, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.

Perjuangannya untuk dapat lolos pns begitu luar biasa, alih – alih berangkat dari keluarga yang berkecukupan justru ia memiliki keluarga yang serba kekurangan. “Kehidupan kedua orang tua dimulai dari menjadi buruh tani, bukan petani ya tapi buruh tani.  Penghasilannya untuk makan sehari – hari saja belum tentu cukup, apalagi berpikiran untuk kuliah,” ucapnya sambil diselingi senyum tipis, Rabu (07/03)

Mulanya pada saat masih kecil, Taisir sudah membantu keluarga dalam menambah penghasilan dengan mencari tengkong (jamur) untuk kemudian diperjualbelikan. Semangat juangnya itu berangkat dari tekadnya untuk dapat mengubah nasib keluarganya serta mewujudkan cita – citanya yakni membahagiakan kedua orangtuanya.

“Saya tidak malu meski sempat mencari tengkong/jamur untuk mendapatkan uang sekolah kala itu, saya belajar mengenai makna perjuangan hidup,” ungkapnya.

Tekad yang ia bentuk sejak dini, berbuah manis di kemudian hari. Pria lulusan SMAN 1 Jonggat itu berhasil memperoleh beasiswa yang dapat mengantarkannya untuk mengenyam pendidikan tinggi. Berbekal dengan tekad tersebut, membuahkan hasil baginya sehingga dapat menimba ilmu di Fakultas Hukum Universitas Mataram.

“Sempat harapan saya pupus pada awalnya, iya karena saya mau dapat uang untuk kuliah darimana ?, mengingat orang tua saya hanya buruh tani dan pada saat itu mereka berdua jatuh sakit. Namun setelah itu rezeki datang, Allah SWT bukakan jalan. Saya mendapatkan beasiswa Bidik Misi di Universitas  Mataram” ungkapnya terharu.

Usai mendapat beasiswa, diapun bersungguh-sungguh dalam menyelesaikan studinya. Hal tersebut dibuktikan dengan dalam waktu 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan, ia menyandang gelar sarjana dengan predikat sangat memuaskan di Fakultas Hukum Universitas Mataram.

Usai menuntaskan studinya, ia mengaku mendapatkan tawaran beasiswa untuk melanjut studi S2. Namun, dirinya mendaftarkan diri menjadi PNS dan berhasil tergabung ke dalam Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Pusat yang merupakan bagian dari penyelenggara pemilu. Ia menyampaikan bahwa ingin mengabdi terlebih dahulu dan memberikan dampak pada kehidupan sosial masyarakat sebelum melanjutkan studi di S2. “Percuma sarjana kalau tidak memberikan manfaat pada banyak orang,” sambungnya.

Taisir mengatakan bahwa perjuangan hidup yang ia lakukan sampai diterima menjadi PNS merupakan berkah dari Allah SWT serta doa yang tulus dari kedua orangtuanya.

“Saya terima kasih kepada Allah SWT, orang tua dan keluarga atas semua bantuannya. Semua kupersembahkan kepada kedua orang tuaku tercinta dan seluruh keluarga besar. Tanpa mereka saya bukan siapa-siapa, ” ujarnya.

Di akhir kalimat, Taisir juga ingin mengajak dan mengobarkan semangat seluruh pemuda desa untuk dapat mewujudkan impiannya serta meningkatkan semangat juangnya. “Sudah saatnya, bagi kaum dhuafa untuk bangkit dan mewujudkan cita – citanya,” pungkasnya. (mar)