Pojokkiri.com

Fakta Baru Pembunuhan Faradila Najwa, Serahkan ATM 80 Juta, Nyawa Mahasiswi Tetap Dihabisi Kakak Iparnya

Tampang-Bripka-Agus-Anggota-Polres-Probolinggo-pelaku-pembunuhan-mahasiswa-UMM.

Surabaya Pojokkiri.com – Tabir gelap yang menyelimuti pembunuhan Faradila Amalia Najwa, mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang, perlahan tersibak. Perempuan berusia 21 tahun itu meregang nyawa di tangan orang terdekatnya sendiri, kakak ipar Bripka Agus Sulaiman, dibantu Suyitno.

Dalam pengungkapan terbaru, terkuak fakta memilukan. Di detik-detik terakhir hidupnya, Faradila sempat memohon agar nyawanya diselamatkan. Dengan harapan masih bisa hidup, ia menyerahkan kartu ATM lengkap dengan nomor PIN yang berisi tabungan sekitar Rp80 juta kepada para pelaku.

Permohonan itu dilontarkan korban dengan nada putus asa. Ia menawarkan seluruh tabungannya demi satu hal paling mendasar, yakni kesempatan untuk tetap hidup. Namun, upaya tersebut tidak melunakkan niat para pelaku. Nyawa Faradila tetap direnggut secara brutal.

Berdasarkan hasil penyelidikan, Faradila dibawa menggunakan mobil Mitsubishi Strada Triton milik Bripka Agus. Kendaraan tersebut diketahui merupakan pemberian orang tua mertuanya. Sejak awal perjalanan, korban sudah berada dalam kondisi tak berdaya.

Di dalam mobil, tubuh Faradila dililit lakban. Tangan, kaki, hingga wajahnya direkatkan, membatasi ruang geraknya dan membuatnya semakin sulit bernapas. Penyekapan itu bukan terjadi di jalan, melainkan telah dimulai sejak korban berada di sebuah rumah di Probolinggo.

Kasubdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Jawa Timur, AKBP Arbaridi Jumhur, mengungkapkan bahwa rumah tersebut merupakan milik Bripka Agus yang juga berasal dari pemberian orang tuanya. Dari lokasi itu, korban dibawa dalam kondisi terikat menuju arah Batu.

Dalam perjalanan, kedua pelaku sempat berhenti untuk membeli helm di pinggir jalan. Tindakan itu bukan tanpa alasan. Helm tersebut disiapkan sebagai bagian dari skenario agar kematian korban tampak seperti hasil kejahatan jalanan.

Rombongan kemudian melanjutkan perjalanan menuju kawasan Cangar melalui jalur hutan. Di lokasi sepi itulah, rencana menghabisi nyawa korban sempat akan dilakukan. Namun eksekusi urung dilakukan di tempat tersebut.

Mobil kemudian berbalik arah menuju Batu. Di antara jalur Batu dan Cangar, keputusan keji itu akhirnya dijalankan. Di dalam kendaraan, Faradila dicekik secara bergantian. Suyitno disebut sebagai pelaku pertama yang menekan leher korban, disusul Bripka Agus hingga korban benar-benar tak bernyawa.

Setelah memastikan Faradila meninggal dunia, lakban yang membelenggu tubuh korban dilepas. Jenazah kemudian dibawa menuju wilayah Pasuruan untuk dibuang, demi menghilangkan jejak kejahatan.

AKBP Arbaridi Jumhur menegaskan bahwa pembelian helm merupakan bagian dari upaya tersangka menyamarkan kejahatan. Rencana itu disusun agar peristiwa tersebut tampak seperti aksi pembegalan yang berujung maut.

Namun, skenario tersebut gagal total. Rangkaian penyelidikan intensif yang dilakukan kepolisian justru mengungkap fakta sebaliknya. Pembunuhan ini merupakan kejahatan terencana yang dilakukan oleh orang-orang yang memiliki hubungan keluarga dengan korban.

Kasus ini tidak hanya menyisakan duka mendalam bagi keluarga Faradila, tetapi juga mengguncang nurani publik. Di balik angka tabungan dan skenario rapi, ada jeritan seorang anak muda yang memohon hidupnya diselamatkan, namun tak pernah digubris (sul)

Berita Terkait

79 Personel Pamapta Maksimalkan Pelayanan Terpadu di Jajaran Polres

Polda Jatim Gelar Mutasi Besar-Besaran, Sejumlah Perwira Tempati Posisi Strategis Baru

Utamakan Kepuasan Masyarakat, Samsat Krian Berikan Pelayanan Terbaik