
Mahasiswi Universitas Brawijaya
Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Indonesia kembali diguncang oleh kasus kekerasan berbasis gender yang memprihatinkan.
Mbak Een, seorang mahasiswi Universitas Trunojoyo Madura, menjadi korban tragedi mengerikan setelah dibakar hidup-hidup oleh pacarnya yang tidak bertanggung jawab.
Insiden ini tidak hanya menyoroti kegagalan individu dalam mengelola emosi dan tanggung jawab, tetapi juga mengungkap celah besar dalam upaya kita melindungi keamanan personal, khususnya perempuan, di masyarakat.
Human Security dan Feminist Security : Apa Yang Salah ?
Dalam pendekatan Human Security, feminist security adalah pendekatan yang mengkritik cara tradisional memahami keamanan.
Perspektif ini melihat bagaimana perempuan dan kelompok terpinggirkan sering kali tidak diperhatikan dalam kebijakan keamanan.
Feminist Security Studies menekankan pentingnya memperluas definisi keamanan, bukan hanya dari ancaman fisik seperti perang, tetapi juga ancaman terhadap kesejahteraan sosial, ekonomi, dan psikologis, seperti kekerasan berbasis gender dan diskriminasi.
Fokus utamanya adalah pada pengalaman perempuan dan bagaimana struktur kekuasaan yang ada memperburuk ketidakamanan mereka.
Namun, di Indonesia, kasus seperti yang dialami Mbak Een menunjukkan bahwa keamanan personal perempuan masih sangat rentan.
Kekerasan berbasis gender, baik di ranah domestik maupun publik, terus menjadi ancaman nyata bagi keamanan dan kesejahteraan perempuan.
Berdasarkan data Komnas Perempuan, laporan kekerasan terhadap perempuan di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya.
Bentuk kekerasan ini tidak hanya fisik tetapi juga mencakup kekerasan seksual, psikologis, hingga ekonomi.
Kasus Een menggambarkan puncak dari kegagalan sistematis dalam melindungi perempuan dari ancaman yang datang dari orang-orang terdekat mereka.
Mengapa Kasus Een Begitu Tragis ?
Kisah Een mencerminkan bagaimana ketidaksetaraan gender dan norma sosial yang bias dapat memicu kekerasan fatal.
Pacar Een, yang seharusnya bertanggung jawab setelah menghamilinya, justru memilih jalan kekerasan untuk “mengatasi” situasi tersebut.
Tindakan ini menunjukkan betapa rendahnya penghargaan terhadap nyawa perempuan dan betapa toksiknya maskulinitas yang tidak terkendali.
Tragedi ini juga menunjukkan ketimpangan kuasa dalam relasi antara laki-laki dan perempuan. Dalam hubungan seperti ini, perempuan sering kali menjadi pihak yang tereksploitasi secara emosional, fisik, dan bahkan finansial.
Ketika kehamilan tidak direncanakan terjadi, perempuan sering kali disalahkan dan dipaksa menanggung beban sosial yang berat, sementara pelaku laki-laki sering kali lolos dari tanggung jawabnya.
Kekerasan Berbasis Gender Sebagai Ancaman Personal Security
Kekerasan berbasis gender adalah salah satu ancaman terbesar terhadap personal security perempuan.
Ketika perempuan tidak merasa aman bahkan di dalam hubungan yang seharusnya memberikan dukungan emosional, maka ini adalah kegagalan besar dalam melindungi human security secara keseluruhan.
Dalam kasus Een, tindakan brutal pacarnya tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga menghancurkan rasa aman bagi banyak perempuan lainnya.
Mereka yang menyaksikan atau mendengar kisah ini mungkin akan merasa semakin takut untuk berbicara, mencari keadilan, atau bahkan membangun hubungan emosional dengan orang lain. Kekerasan semacam ini menciptakan lingkaran ketakutan yang sulit dipatahkan.
Peran Negara dan Masyarakat Dalam Melindungi Personal Security
Apa yang bisa dilakukan negara ? Dalam konteks ini, penegakan hukum yang tegas adalah langkah awal yang mutlak diperlukan.
Pelaku kekerasan berbasis gender harus diberikan hukuman yang setimpal untuk memberikan efek jera dan menegaskan bahwa tidak ada toleransi terhadap kekerasan terhadap perempuan.
Namun, tindakan represif saja tidak cukup. Negara perlu memperkuat upaya preventif, seperti menyediakan pendidikan yang berfokus pada kesetaraan gender dan pengendalian emosi sejak usia dini.
Selain itu, akses yang mudah ke layanan perlindungan, seperti rumah aman dan konseling, juga harus diperluas agar perempuan yang merasa terancam dapat mencari bantuan tanpa rasa takut atau stigma.
Masyarakat juga memiliki peran besar dalam mencegah kekerasan berbasis gender. Lingkungan sosial harus menjadi ruang yang mendukung perempuan untuk berbicara tentang kekerasan yang mereka alami.
Budaya victim-blaming, yang sering kali menempatkan perempuan sebagai pihak yang salah dalam kasus kekerasan, harus dihilangkan. Sebaliknya, masyarakat harus menjadi tempat di mana perempuan merasa didengar, dihormati, dan dilindungi.
Refleksi Bagi Mahasiswa Hubungan Internasional : Kekerasan Gender Sebagai Isu Global
Sebagai mahasiswa Hubungan Internasional, kita sering diajarkan untuk berpikir dalam skala besar tentang perdamaian dunia dan diplomasi. Namun, kasus Een mengingatkan kita bahwa perdamaian sejati dimulai dari keamanan personal di tingkat individu.
Kekerasan berbasis gender bukan hanya masalah Indonesia. Ini adalah isu global yang memengaruhi jutaan perempuan di seluruh dunia. Di banyak negara, perempuan masih menghadapi diskriminasi dan ancaman fisik yang serupa. Hal ini membuat perlindungan personal security menjadi agenda penting dalam kerja sama internasional.
Sebagai generasi muda, kita harus terlibat dalam wacana ini, baik melalui pendidikan, advokasi, maupun aksi nyata. Kita bisa menjadi suara bagi mereka yang tidak berani berbicara dan mendorong perubahan sistemik yang melindungi perempuan dari kekerasan berbasis gender.
Penutup
Kematian Een adalah tragedi yang memilukan, tetapi juga panggilan untuk kita semua negara, masyarakat, dan individu untuk bertindak lebih baik. Personal security adalah hak asasi setiap manusia, dan kekerasan berbasis gender tidak boleh lagi ditoleransi dalam bentuk apa pun. Sebagai bangsa, kita harus memastikan bahwa setiap perempuan di Indonesia dapat hidup tanpa rasa takut, bebas dari ancaman kekerasan, dan dihormati martabatnya. Kasus Een harus menjadi pengingat bahwa perjuangan melawan kekerasan berbasis gender masih panjang, tetapi bukan tidak mungkin untuk dimenangkan. (*)

