Pojokkiri.com

Mujahadah Kubro, Senator Lia Istifhama Dipeluk Jamaah Muslimat Asal Banyuwangi

Senator Lia Istifhama Dipeluk Jamaah Muslimat Asal Banyuwangi

Malang Pojokkiri.com – Suasana khidmat menyelimuti pelaksanaan Mujahadah Kubro di Stadion Gajayana, Kota Malang, Jawa Timur. Di tengah lantunan doa dan dzikir yang menggema, sebuah momen sederhana namun menggetarkan hati terjadi saat Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, tiba di lokasi kegiatan.

Bukan kerumunan besar yang menyambut kedatangannya, melainkan satu peristiwa spontan yang sarat emosi. Seorang jamaah perempuan tiba-tiba berlari menghampiri Lia Istifhama sambil mengucapkan, “Masya Allah, cantiknya,” dengan suara bergetar hingga meneteskan air mata. Jamaah tersebut diketahui merupakan anggota Muslimat asal Banyuwangi.

Melihat ketulusan itu, Lia Istifhama langsung menghampiri dan menyalami jamaah tersebut. Keduanya kemudian berpelukan dalam suasana haru yang menyentuh, menjadi potret kedekatan emosional antara tokoh publik dan umat dalam ruang spiritual yang tulus.

Kehadiran senator yang akrab disapa Ning Lia itu menghadirkan nuansa berbeda di tengah Mujahadah Kubro. Bukan sekadar simbol kehadiran pejabat negara, tetapi kehadiran personal yang memancarkan keteduhan dan empati. Momen tersebut pun menjadi perhatian jamaah lain yang menyaksikan dengan perasaan hangat dan penuh rasa syukur.

Dengan senyum lembut dan sikap rendah hati, Lia Istifhama tampak membalas setiap sapaan jamaah yang menghampiri. Ia menyapa dengan penuh kesabaran, menunjukkan penghormatan terhadap ketulusan doa dan rasa cinta umat yang hadir dalam kegiatan tersebut.

Mujahadah Kubro sendiri menjadi ruang ibadah sekaligus penguatan batin. Jamaah yang hadir memanjatkan doa demi ketenangan jiwa, persatuan umat, dan keberkahan bagi bangsa. Lantunan dzikir dan munajat mengalir khusyuk, menciptakan suasana spiritual yang mendalam.

Lia Istifhama menilai kegiatan keagamaan seperti Mujahadah Kubro memiliki makna penting dalam menjaga keseimbangan antara kehidupan spiritual dan tanggung jawab kebangsaan. Doa bersama, menurutnya, menjadi kekuatan batin yang menumbuhkan ketenangan, optimisme, dan harapan di tengah dinamika kehidupan berbangsa.

Ia juga menegaskan bahwa kehadiran tokoh publik dalam ruang-ruang keagamaan bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk ikhtiar untuk tetap dekat dengan umat dan menyerap energi spiritual sebagai bekal pengabdian kepada bangsa dan negara.

Stadion Gajayana malam itu menjadi saksi perjumpaan yang sederhana namun bermakna. Sebuah pelukan tulus, air mata keharuan, dan doa-doa yang dipanjatkan bersama menjadi pengingat bahwa kekuatan spiritual dan kedekatan manusiawi tetap menjadi fondasi penting dalam membangun bangsa yang beriman, beradab, dan berdaya tahan (sul).

Berita Terkait

Ning Lia Tegas: Bendera Merah Putih Jangan Digantikan Simbol Fiktif Bajak Laut One Piece

sukoto pojokkiri.com

RS Menur Diapresiasi Senator Lia Istifhama, Khofifah Dinilai Berperan Besar dalam Modernisasi Layanan Kesehatan Mental

Kadis Pendidikan Jatim Tekankan Pentingnya Etika Profesional dan Komunikasi Empatik bagi Guru SMA