Pojokkiri.com

Unicef Jatim Luncurkan Fortifikasi Pangan untuk Tekan Stunting, Fokus Beras Bergizi

Peluncuran Fortifikasi Pangan Berskala Besar oleh Pemprov Jawa Timur di Hotel JW Marriott Surabaya.

Surabaya Pojokkiri.comPemerintah Provinsi Jawa Timur resmi meluncurkan Program Fortifikasi Pangan Berskala Besar (FPBB) yang digelar di ruang Nusantara, Hotel JW Marriott Surabaya, pada Kamis (31/07/2025).

Program ini menjadi langkah nyata dalam menghadapi tantangan stunting dan kekurangan gizi di tengah masyarakat, khususnya bagi kelompok rentan.

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Adhi Karyono, menegaskan pentingnya upaya peningkatan kualitas gizi masyarakat melalui komoditas pangan harian yang mudah dijangkau.

“Ketahanan pangan dan gizi masyarakat menjadi prioritas utama ke depan. Salah satunya adalah melanjutkan fortifikasi komoditas seperti minyak goreng, garam, dan tepung terigu agar masyarakat mengkonsumsi langsung vitamin dan mineral bergizi,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa komoditas berikutnya yang akan difortifikasi adalah beras, yang akan diperkaya dengan kernel berisi vitamin dan mineral penting. Upaya ini akan dikemas dalam skema bantuan pangan bagi masyarakat kurang mampu sebagai strategi terintegrasi untuk menekan angka stunting di Jawa Timur.

Kepala Perwakilan Unicef Wilayah Jawa, Tubagus Arie Rukmantara, menyampaikan apresiasinya terhadap langkah progresif yang dilakukan oleh Jawa Timur. Menurutnya, provinsi ini sudah sejak lama menjadi pelopor program pangan bergizi, dimulai dari yodisasi garam hingga fortifikasi minyak dan tepung.

“Efektivitasnya luar biasa. Jawa Timur telah menjadi teladan nasional, bahkan dalam forum tingkat tinggi di New York, program gizi Indonesia terutama dari Jawa Timur diangkat sebagai model yang layak direplikasi secara global,” ungkapnya.

Tubagus juga menggarisbawahi efisiensi biaya dari program fortifikasi ini. Berdasarkan pengamatannya, fortifikasi beras hanya membutuhkan tambahan sekitar Rp1.000 per kilogram, namun dapat memberikan manfaat hingga 17 kali lipat dalam jangka panjang, termasuk dalam menekan stunting.

Sementara itu, Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Prof. Dr. Ir. Achmad Jazidie, M.Eng, menekankan pentingnya memperbaiki kandungan gizi dalam makanan pokok seperti beras.

“Masyarakat kita mayoritas mengonsumsi karbohidrat tinggi dari beras, sementara lauknya sangat sedikit. Jika di dalam beras sudah terdapat vitamin dan mineral, maka otomatis asupan gizinya terpenuhi,” ujarnya.

Ia menambahkan, selama lima tahun terakhir, Unusa bersama mitra internasional telah menjalankan kerjasama untuk penanganan gizi, termasuk dalam konteks bencana seperti yang terjadi di Lumajang. Program ini mencakup edukasi gizi sejak usia remaja agar calon orang tua kelak memiliki kesiapan dalam menciptakan generasi yang sehat.

Membangun Generasi Masa Depan Tanpa Stunting

Program FPBB ini tidak hanya menyasar kelompok masyarakat miskin dengan distribusi beras bergizi, tetapi juga diarahkan untuk membentuk kesadaran kolektif bahwa konsumsi pangan bergizi adalah hak dasar setiap warga negara.

Melalui sosialisasi yang masif dan pelibatan berbagai pihak—termasuk perguruan tinggi, sektor swasta, dan organisasi internasional Jawa Timur berharap dapat menghapuskan stunting secara menyeluruh di masa depan. 

 

Reporter Samsul Arif.

Berita Terkait

Pemkab Bojonegoro Targetkan Penurunan Angka Stunting Menjadi 9 Persen Tahun 2025

sukoto pojokkiri.com

Dewan Usul Perlu Dibentuk Posko – Warga Diminta Tak Panik Munculnya Hepatitis Akut Misterius

Penggerebekan Pabrik Petasan di Pamekasan, Polisi Bekuk Peracik dan Kejar Dalang Utama