
Surabaya Pojokkiri.com — Senator asal Jawa Timur, Lia Istifhama, mengajak berbagai instansi dan lembaga terkait untuk turut berperan aktif dalam edukasi pencegahan pernikahan dini. Menurutnya, isu ini bukan hanya tanggung jawab BKKBN, tetapi memerlukan kolaborasi lintas sektor agar dampaknya terasa lebih luas di masyarakat.
“Pencegahan pernikahan dini sangat penting, karena tidak semua pihak memberi perhatian serius pada hal ini. Padahal, kasus-kasus seperti ini nyata terjadi di sekitar kita,” tutur Ning Lia saat menjadi narasumber dalam kegiatan bertajuk “Stop Pernikahan Dini agar Tidak Menjadi JUS (Janda Usia Sekolah)”, pada Senin (10/11/2025).
Dalam kesempatan itu, Ning Lia menyoroti masih tingginya angka pernikahan dini di Indonesia yang mencapai 11 persen. Angka ini mencerminkan masih banyak anak usia sekolah yang terjebak dalam pernikahan di usia muda, yang kerap berujung pada stunting, putus sekolah, hingga munculnya fenomena Janda Usia Sekolah (JUS).
“Angka 11 persen ini bukan sekadar data, tapi menunjukkan masih banyak anak-anak kita yang kehilangan kesempatan untuk tumbuh dan belajar sesuai usianya. Maka dari itu, sosialisasi seperti ini harus terus diperluas, bahkan diadopsi oleh kementerian dan lembaga lain,” jelas Ning Lia, lulusan doktoral Ilmu Ekonomi Islam UINSA Surabaya.
Ning Lia juga menyampaikan apresiasinya terhadap SMAN 19 Surabaya yang menjadi tuan rumah kegiatan edukatif tersebut. Ia menilai, antusiasme para pelajar dalam menyimak pemaparan para narasumber mencerminkan tingkat kesadaran yang mulai tumbuh di kalangan remaja.
“Saya sangat mengapresiasi semangat para siswa di sini. Mereka memperhatikan dengan antusias dan berani berekspresi dengan cara yang positif. Ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter berjalan baik di sekolah ini,” ungkapnya.
Legislator Jatim dengan memiliki kekuatan gras root menambahkan, dukungan guru yang memberi ruang berekspresi kepada siswa adalah contoh nyata lingkungan pendidikan yang sehat. Ia mencontohkan program kreatif yang mendorong siswa membuat video edukasi dan karya kolaboratif sebagai bagian dari pembelajaran.
“Anak-anak diberi kesempatan membuat karya positif seperti video edukatif atau proyek kelompok. Saya berharap sekolah dan orang tua terus mendukung mereka untuk berkarya dan berkontribusi membangun hal-hal baik,” tutur Ning Lia penuh harap.
Lebih jauh, Ning Lia menegaskan bahwa pencegahan pernikahan dini bukan sekadar kampanye moral, tetapi juga langkah strategis untuk mencegah stunting dan kemiskinan struktural di masa depan. Ia mengajak semua pihak, mulai dari lembaga pendidikan, tokoh masyarakat, hingga instansi pemerintahan untuk bersama-sama mengedukasi masyarakat.
“Anak-anak adalah aset bangsa. Jika sejak dini kita menjaga mereka agar tumbuh sehat, cerdas, dan berdaya, maka kita sedang menanam investasi besar bagi masa depan Indonesia,” pungkasnya.
Edukasi pencegahan pernikahan dini yang digagas Lia Istifhama menjadi langkah penting untuk menciptakan generasi muda yang sehat, berpendidikan, dan berdaya saing tinggi. Kolaborasi lintas instansi menjadi kunci agar pesan edukatif ini menjangkau seluruh lapisan masyarakat (sul).

