Pojokkiri.com

Kisah Tamim, Pemikat Burung Kondang dari Lamongan: Cari Berkah di Balik Riuhnya Pasar Burung

 

Tamim pemikat burung (duduk) dan Teguh pembeli burung (berdiri). Lokasi di Pasar Burung Lamongan.(Foto: Zainul Lutfi for Pojok Kiri)

Lamongan, Pojokkiri.com-Di tengah hiruk-pikuk Pasar Burung Lamongan, sosok Tamim (55) sudah tidak asing lagi. Warga Lingkungan Trisno Mulyo, Kelurahan Sidoharjo ini dikenal sebagai pemikat burung ulung yang menggantungkan hidup dari kekayaan alam liar Lamongan.

Pada Kamis (7/5/2026) siang, wartawan Harian Pagi Pojok Kiri menemui pria berkumis tebal ini saat sedang menyetorkan hasil tangkapannya di Kios Burung milik Teguh. Wajah lelahnya tertutup senyum puas setelah seharian berburu di areal makam Desa Deket Wetan, Kecamatan Deket.

“Tadi mencari burungnya di areal makam Desa Deket Wetan. Alhamdulillah, dapat sekitar 30 ekor perkutut dan 3 ekor trucukan,” ujar Tamim sembari menata burung-burung tersebut.

Tamim mengaku rutin menyetorkan burung hasil pikatannya setiap tiga hari sekali, atau sekitar tiga kali dalam seminggu. Meski pekerjaan ini penuh ketidakpastian, Tamim menjalaninya dengan hati yang lapang. Saat ditanya mengenai berapa besar pendapatan yang ia peroleh, ia menjawab dengan filosofi yang mendalam.

“Besar kecil disyukuri saja agar terasa cukup dan berkah. Bersyukur membuat rezeki terasa lebih nikmat dan mendatangkan kedamaian. Sebaliknya, kalau kurang bersyukur, hasil berapapun pasti terasa kurang,” tutur Tamim yang membuat suasana di kios sempat hening sejenak karena kekaguman.

Baginya, hasil penjualan burung tersebut sudah lebih dari cukup untuk kebutuhan pokok keluarga, mulai dari membeli beras hingga uang saku sekolah anaknya.

Di sisi lain, Teguh, pemilik kios yang menjadi langganan setia Tamim, merasa bersyukur atas kepercayaan yang diberikan kepadanya. Menurut Teguh, burung-burung dari Tamim selalu memiliki kualitas yang baik karena hasil tangkapan alam.

Teguh membeberkan rincian harga beli di kiosnya: burung perkutut dibeli seharga Rp2.500 per ekor, kutilang Rp4.000 per ekor, sementara untuk burung trucukan mencapai Rp20.000 per ekor.

“Yang penting saling menguntungkan. Saya berharap bisnis perburungan ini tetap prospek ke depannya, sehingga saya bisa terus membantu para pemikat seperti Pak Tamim mencari nafkah,” pungkas Teguh dengan ramah.(lut)

 

Editor: Zainul Lutfi

Sumber: www.pojokkiri.com dan Koran Harian Pagi Pojok Kiri