
Lamongan, Pojok Kiri.com-Gunung Pegat atau Girik menjadi salah satu lokasi yang menyimpan kisah mistis sekaligus budaya yang terus hidup di tengah masyarakat modern. Terletak di Kecamatan Babat, gunung ini sebenarnya merupakan perbukitan kapur yang dipotong untuk akses jalan raya. Namun di balik fungsi praktisnya, tersimpan cerita turun-temurun yang hingga kini masih dipercaya sebagian warga.
Nama “Pegat” sendiri berasal dari Bahasa Jawa yang berarti “putus” atau “berpisah”. Makna ini kemudian melekat kuat pada mitos yang berkembang di masyarakat, khususnya di wilayah Desa Karangkembang. Konon, pasangan pengantin baru yang melewati jalan di kawasan tersebut tanpa melakukan ritual tertentu dipercaya berisiko mengalami perpisahan dalam rumah tangganya.

Untuk menghindari hal tersebut, muncul tradisi unik berupa ritual melepaskan ayam atau burung sebagai simbol tolak bala. Ritual ini diyakini sebagai warisan leluhur yang bertujuan menjaga keharmonisan rumah tangga pasangan yang baru menikah.
Hingga saat ini, masih ada pasangan yang memilih menjalankan tradisi tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap kepercayaan lokal.
Selain dikenal dengan mitosnya, kawasan Gunung Pegat juga sering dianggap memiliki nuansa mistis. Banyak cerita beredar tentang suasana angker hingga pengalaman-pengalaman tak biasa yang dialami oleh warga maupun pengendara yang melintas, menambah aura misteri tempat ini.
Tak hanya itu, nilai sejarah kawasan ini juga menarik perhatian. Pegiat budaya menyebut adanya temuan prasasti di sekitar area Desa Pucakwangi yang diduga memiliki keterkaitan dengan masa lampau. Meski belum sepenuhnya terungkap, temuan ini memperkuat dugaan bahwa Gunung Pegat memiliki jejak sejarah yang panjang.
Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, kepercayaan terhadap mitos Gunung Pegat memang mulai berkurang, namun belum sepenuhnya hilang. Bagi sebagian masyarakat, cerita ini bukan sekadar mitos, melainkan bagian dari identitas budaya yang patut dijaga.
Gunung Pegat pun kini tidak hanya dikenal sebagai jalur penghubung antar wilayah, tetapi juga sebagai simbol pertemuan antara kepercayaan, tradisi, dan sejarah yang terus hidup di Lamongan.(lut)
Editor.: Zainul Lutfi
Sumber: www.pojokkiri.com dan Koran Harian Pagi Pojok Kiri

