Pojokkiri.com, – SAMPANG – Aula terbuka Mapolres Sampang menjadi saksi bisu digelarnya program “Piramida” (Ngopi Bareng Kapolres dan Media) pada Rabu malam (05/02/2026). Meski dibalut dengan suasana santai, acara yang dihadiri puluhan wartawan ini justru menyisakan kritik tajam terkait konsistensi dan transparansi kemitraan antara kepolisian dan insan pers.

Kapolres Sampang, AKBP Hartono, hadir didampingi jajaran elitnya, mulai dari Kasat Lantas, Kasat Reskrim, Kasat Intelkam, hingga Kasi Humas. Namun, ada fakta menarik di balik seremoni ini. Sejak menjabat pada 14 Januari 2025, AKBP Hartono tercatat baru dua kali menggelar agenda Piramida—sebuah program yang sejatinya digagas Kapolri untuk mempererat komunikasi rutin.
Minimnya frekuensi pertemuan selama satu tahun masa jabatan ini memicu spekulasi di kalangan kuli tinta. Muncul kesan bahwa kemitraan ini hanya bersifat aksidental atau situasional, alias hanya digelar saat kepolisian merasa “perlu” merangkul media.
Pantauan situasi saat ini, muncul sorotan terhadap “Tebang Pilih” Organisasi Media, dimana wartawan atau media yang di undang terbatas, termasuk Media Center Sampang (MCS) yang tidak diundang.
Sekedar tambahan informasi, Catatan Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Kab. Sampang tercatat ada 8 Organisasi Pers yang aktif melaporkan ke Diskominfo Sampang.
Kritik tidak hanya soal waktu, tapi juga soal inklusivitas. Pantauan di lokasi menunjukkan tidak semua organisasi media di Sampang mendapatkan undangan. Strategi “tebang pilih” ini pun menjadi perbincangan hangat di lapangan, karena dianggap mencederai semangat harmonisasi yang seharusnya menjadi tujuan utama Piramida.
Menanggapi dinamika ini, Ketua Media Center Sampang (MCS) sekaligus Penasehat PWI Sampang, Fathor Rahman, S.Sos (akrab disapa Mamang), memberikan pesan yang sangat keras. Ia menekankan pentingnya menjaga marwah profesi di atas segalanya.
“Wartawan harus menjaga idealisme, profesionalitas, dan etika. Jangan sampai Pers sebagai pilar keempat demokrasi hanya dihargai saat dibutuhkan, apalagi sekadar dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu,” tegas Mamang yang juga mantan Ketua PWI Sampang dua periode tersebut.
Ia berharap penguatan wawasan wartawan di Sampang bisa menjadi benteng agar fungsi kontrol sosial tetap berjalan objektif, tanpa terkooptasi oleh kepentingan pihak manapun, termasuk instansi penegak hukum.

Hingga berita ini diturunkan, upaya konfirmasi yang dilayangkan kepada AKBP Hartono sejak Rabu malam tidak membuahkan hasil. Kapolres Sampang memilih bungkam, membiarkan tanda tanya besar menggantung di balik agenda kopi bareng yang seharusnya menjadi ruang klarifikasi. (Man/F-R)

