Pojokkiri.com

Rokok Mahal, “Tingwe” Jadi Gerakan Masif Perokok Menengah-Bawah Lamongan

 

Khoirul Anwar menunjukan cara nglinting tembakau (tingwe) dikiosnya, Senin (30/9).(Pojok Kiri/Zainul Lutfi)

Lamongan, Pojok Kiri.com- Banyak penelitian yang menyebutkan pelbagai risiko merokok, agaknya tak menyurutkan jumlah perokok. Merokok, layaknya sudah seperti sebuah gaya hidup. Bahkan, rokok seakan menjadi kawan untuk mengisi waktu luang.

Seringkali pula seseorang memunculkan frasa ‘asam’, tatkala baru selesai makan. Walaupun harga cukai tiap tahunnya meningkat yang membuat harga rokok melonjak, masyarakat masih terus memburunya. Akan tetapi ada satu tren dimana kini, masyarakat juga mulai beralih ke tembakau atau tingwe, ngelinting dewe.

Pemilik Kios Bako Perempatan Tambakboyo-Lamongan, Khoirul Anwar menjelaskan, ada kenaikan jumlah pembeli semenjak harga rokok semakin mahal. Itu disebabkan karena harga rokok kini cenderung sudah tidak terjangkau bagi kalangan menengah ke bawah.

Pun, tingkat efisiensi pengeluaran membeli tembakau jauh lebih murah dari pengeluaran seseorang dalam membeli rokok pabrikan. Misalnya, Khoirul menjual pelbagai jenis tembakau dari pelbagai daerah dengan harga yang bisa dibilang cukup murah. Untuk 1 ons tembakau ia biasa menjual di harga Rp 18 ribu sampai Rp 30 ribu.

Untuk 1 ons tembakau, menurut Irul, sapaannya, itu setara dengan tiga bungkus atau 100 batang rokok pabrikan. “Intinya kita menyesuaikan pasar. Kadang-kadang orang beralih ke tingwe itu karena sudah kepepet. Bisa dibilang tingwe adalah kunci,” kata Irul kepada Pojok Kiri, Senin (30/9/2024).

Menurut Irul, kini tren tingwe memang sedang bagus-bagusnya. Hal itu ditandai dengan tokonya yang dalam seminggu bisa berbelanja kebutuhan tembakau dari petani tiga kali dalam seminggu. Minimal pemesanan satu jenis tembakau adalah 10 kilogram.

Soal efisiensi, Irul menjelaskan bahwa jika seseorang dengan intensitas merokok tidak terlalu kencang maka dengan 1 ons tembakau itu bisa digunakan dalam kurung waktu minimal dua minggu. Bisa dibilang jauh lebih efisien dibandingkan dengan membeli rokok pabrikan.

Ia pun berharap, pecinta tembakau Indonesia semakin banyak. Musababnya, dengan tingwe sama saja seseorang telah turut membantu melestarikan budaya Indonesia dan mencintai tembakau-tembakau hasil negeri sendiri.

“Kita mau melestarikan budaya tingwe ini biar masyarakat bisa tahu tembakau-tembakau Indonesia,” ungkapnya

Pun, bagi Irul dengan tingwe maka bisa menjalin relasi dan persaudaraan antar pecinta tingwe. Misalnya, para pecinta tingwe acapkali berbagai resep racikan dan saling memberi koreksi. Atas dasar itu, seseorang yang tadinya tidak kenal maka akan menjadi akrab.

“Kalau beli tembakau, tingwe itu kaya circle dari yang tadinya nggak kenal lu beli tembakau, nongkrong, sharing, tukeran nomor, akhirnya jadi saudara,” ujarnya.

Iapun berpesan, tentu saja baik rokok ataupun tingwe sama-sama memiliki risiko kesehatan bagi tubuh manusia. Sehingga seyogianya masyarakat bisa mengetahui batas sejauh mana bahaya merokok. Bahkan syukur-syukur berhenti merokok bisa dibilang jauh lebih baik.

“Makanya pemakaiannya harus secukupnya. Sesuatu yang berlebihan tidak baik. Perokok harus tau batasan sampai sejauh mana,” pungkasnya.(lut)