Pojokkiri.com

Dewa 19 Mengguncang Teras Gubuk! Ribuan Warga Tumpah, Dakwah dan Rock Bersatu di Kediri

KEDIRI, pojokkiri.com — Ini bukan sekadar konser. Bukan pula pengajian biasa. Lapangan Teras Gubuk, Dusun Cangkring, Desa Ploso, Kediri, Rabu (30/9/2026) malam, berubah menjadi lautan manusia. Ribuan warga tumplek blek dalam satu panggung yang mempertemukan musik, dakwah, dan pesta rakyat.

Puncak peringatan dua tahun Teras Gubuk melalui TG Fest 2 itu menghadirkan dua nama besar musik Indonesia, Letto dan Dewa 19 feat Virzha.

Suasana malam itu terasa berbeda. Di satu sisi, ribuan penonton larut dalam dentuman musik dan lagu-lagu populer. Di sisi lain, nuansa pengajian tetap mengalir. Panggung dakwah dan panggung hiburan melebur tanpa sekat.

Bahkan sebelum musik dimulai, suasana sudah dibuat panas oleh pembagian doorprize. Sepeda gunung, sepeda listrik, uang tunai hingga paket umrah menjadi hadiah yang membuat antusiasme pengunjung semakin membuncah.

Namun, sorotan utama sempat beralih ketika KH Abdurrahman Al Kautsar atau Gus Kautsar naik ke panggung bersama sang istri, Ning Jazilah Annahdliyah. Di tengah hiruk-pikuk ribuan penonton, Gus Kautsar justru membawa suasana ke arah yang lebih teduh.

Ia menyampaikan rasa syukur sekaligus mengajak masyarakat menjadikan Teras Gubuk bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi ruang yang kelak meninggalkan jejak kebaikan.

“Terima kasih yang tak terhingga untuk semuanya. Saya sangat berharap panjenengan dengan penuh keikhlasan mendoakan. Mudah-mudahan majelis dan tempat kita ini kelak menjadi saksi kebaikan kita di hadapan Allah SWT.”

Pesan itu kemudian ditutup dengan kalimat sederhana yang langsung disambut hangat penonton. “Moga-moga sampeyan semuanya terhibur. Ini semua tentang kita.”

Letto membuka pertunjukan dan langsung mengerek energi ribuan penonton. Musik mengalun, suara penonton membahana, dan lapangan Teras Gubuk berubah menjadi arena pertunjukan musik terbuka.

Belum selesai euforia Letto, giliran Dewa 19 feat Virzha menghantam panggung. Nama besar Dewa 19 membuat atmosfer semakin menggila. Ribuan penonton larut dalam lagu-lagu yang telah menjadi bagian dari perjalanan musik Indonesia.

Malam itu, Teras Gubuk seperti memiliki dua wajah: teduh ketika dakwah disampaikan, lalu bergemuruh ketika musik dimainkan.

TG Fest 2 menunjukkan bahwa ruang keagamaan tidak selalu harus tampil dalam format formal. Seni, musik, dan budaya populer dapat menjadi pintu perjumpaan dengan masyarakat luas, termasuk generasi muda.

Dan malam itu, pesan tersebut tidak disampaikan melalui teori. Ia diperlihatkan langsung di atas panggung.

Teras Gubuk merayakan dua tahun perjalanannya dengan cara yang berbeda: menghadirkan dakwah tanpa jarak, musik tanpa sekat, dan ribuan orang dalam satu suasana kebersamaan.

Dari pengajian menuju Letto. Dari Letto menuju Dewa 19. Dari panggung musik kembali pada satu pesan: ini semua tentang kebersamaan. (ade/wan)