Pojokkiri.com

Mengenang Enny Arrow: Ratu Novel “Stensilan” yang Menjadi Fenomena Budaya Pop Era 80-an

 

Novel Enny Arrow berjudul Pesona diujung Malam jadi icon remaja di tahun 80-an.(Pojok Kiri/istimewa)

Lamongan, Pojok Kiri.com-Bagi generasi yang tumbuh di era 1980-an hingga 1990-an, nama Enny Arrow bukan sekadar nama penulis, melainkan simbol dari sebuah fenomena budaya pop yang unik. Di masa pra-internet, karya-karyanya yang dikenal sebagai “buku stensilan” menjadi bacaan bawah tangan yang paling diburu di kios persewaan komik dan novel di Lamongan kala itu.

Lama menjadi misteri, sosok di balik nama pena ikonik ini adalah Eni Sukaisih. Lahir di Hambalang, Bogor pada tahun 1942, Eni sejatinya adalah seorang jurnalis sebelum akhirnya memutuskan untuk menekuni penulisan fiksi dewasa. Nama “Arrow” sendiri memiliki asal-usul yang sederhana; diambil dari sebuah toko penjahit di kawasan Kalimalang saat ia pertama kali memperkenalkan nama samarannya pada tahun 1965 lewat karya Sendja Merah di Pelabuhan Djakarta.

Novel-novel Enny Arrow memiliki ciri khas fisik yang tak terlupakan dicetak menggunakan mesin stensil di atas kertas buram. Diproduksi oleh Penerbit Mawar, buku-buku ini beredar secara semi-sembunyi namun masif. Judul-judul seperti Puncak Bukit Kemesraan menjadi primadona yang mendefinisikan genre asmara dewasa yang lugas dan sangat deskriptif pada masanya.

Meski sering dianggap kontroversial karena konten erotisnya, tak dapat dipungkiri bahwa Enny Arrow telah meninggalkan jejak mendalam dalam sejarah literatur populer Indonesia. Hingga wafatnya pada tahun 1995, ia berhasil membangun “kerajaan” ceritanya sendiri yang tak lekang oleh waktu bagi generasinya.

Kini, buku-buku stensilan tersebut telah menjadi barang koleksi langka yang memicu nostalgia akan era di mana informasi dan hiburan dewasa masih tersekat oleh lembaran-lembaran kertas stensil.(lut)

 

Editor: Zainul Lutfi

Sumber:www.pojokkiri.com dan Koran Harian Pagi Pojok Kiri