Pojokkiri.com

Jelang Nataru, Harga Telur Ayam di Surabaya Melambung, Warga dan Pedagang Menjerit

Pedagang Telur Ayam Hanafi (foto: Samsul -pojokkiri)

Surabaya Pojokkiri.com – Lonjakan harga bahan pangan menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) kembali menjadi mimpi buruk bagi masyarakat Surabaya. Dalam tiga hari terakhir, harga telur ayam di pasar tradisional melonjak tajam, dari Rp24.000 per kilogram menjadi Rp29.000 per kilogram.

Kenaikan ini tidak hanya memukul pedagang, tetapi juga memberatkan konsumen yang kini harus mengencangkan ikat pinggang.

Hanafi, pedagang telur ayam di Pasar Dukuh Kupang, mengungkapkan keresahannya. “Tiap hari naik, pak. Dari Rp24.000, sekarang saya jual Rp29.000. Pelanggan saya yang biasa beli dua kilo sekarang cuma beli satu kilo, bahkan ada yang batal beli karena harganya naik terus. Kalau bisa, jelang Natal dan Tahun Baru ini harganya dinormalkan, kasihan rakyat kecil,” keluhnya.

Tidak hanya telur ayam, bahan pokok lainnya juga mengalami lonjakan harga. Cabai rawit yang sebelumnya Rp25.000 per kilogram kini menyentuh Rp35.000, sedangkan cabai merah besar naik dari Rp25.000 menjadi Rp30.000 per kilogram. Harga bawang putih pun ikut terkerek, dari Rp45.000 menjadi Rp47.000 per kilogram.

“Sayur dan cabai naik semua, pak. Cabai kecil dari Rp25.000 sekarang Rp35.000, cabai besar jadi Rp30.000. Kenaikan ini bikin pelanggan makin sepi,” ujar Sofia, pedagang sayur di pasar yang sama.

Kenaikan harga ini memicu keluhan dari berbagai pihak, termasuk konsumen seperti Kurniawan. “Tiap tahun selalu begini, harga naik semua menjelang Natal dan Tahun Baru. Kalau bisa, pemerintah cepat turun tangan biar harga nggak terlalu tinggi. Kebutuhan kami banyak, ini benar-benar memberatkan,” katanya dengan nada kecewa.

Pedagang dan masyarakat berharap pemerintah segera mengambil tindakan untuk menekan kenaikan harga. Langkah seperti operasi pasar atau subsidi biaya angkut dinilai penting untuk meringankan beban masyarakat, khususnya mereka yang berada di lapisan ekonomi menengah ke bawah.

Kondisi ini menunjukkan bahwa kebutuhan pokok masyarakat masih rentan terhadap fluktuasi harga, terutama menjelang momen-momen besar seperti Nataru. Pemerintah diharapkan tidak hanya meredam kenaikan harga, tetapi juga merancang solusi jangka panjang agar masyarakat tidak terus-menerus menjadi korban lonjakan harga setiap tahun.

Lonjakan harga bahan pokok ini adalah pengingat keras bahwa stabilisasi harga harus menjadi prioritas utama. Di tengah tantangan ekonomi yang terus menghimpit, langkah cepat dan tepat pemerintah sangat dinantikan demi memastikan kebutuhan masyarakat tetap terjangkau (Sam).

Berita Terkait

Jelang Nataru, Polres Pelabuhan Tanjung Perak Intensifkan Patroli Gabungan di Wilayah Rawan

Polres Pelabuhan Tanjung Perak Pasang Rambu Peringatan di Titik Kecelakaan, Jelang Nataru

KAI Daop 8 Surabaya Kebut Perbaikan Jalur Rel Jelang Nataru