
Surabaya Pojokkiri.com – Di balik kerasnya hidup di kota metropolitan, terkadang kebutuhan sehari-hari yang mendesak justru mendorong seseorang mengambil jalan keliru. Sepasangan suami istri (pasutri) di Surabaya, inisial LD (46) dan WP (38), yang nekat menjadi pelaku pencurian sepeda motor di sejumlah lokasi berbeda diamankan polisi.
Mereka tak hanya harus berurusan dengan polisi, tetapi juga mempertaruhkan masa depan keluarga demi memenuhi kebutuhan yang tak kunjung tercukupi.
Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Luthfi Sulistiawan, melalui Kasi Humas AKP Hadi, mengungkapkan bahwa LD sehari-hari bekerja sebagai sopir travel. Namun, penghasilannya sebagai sopir tidak sebanding dengan kebutuhan hidup bersama istri dan anak.
“Meski setiap harinya LD telah bekerja sebagai sopir travel, pendapatannya dinilai masih belum cukup untuk hidup bersama istri dan anaknya,” jelas AKP Hadi kepada awak media, Jumat (27/3/2026).
Keterdesakan ekonomi inilah yang menjadi pemicu utama pasangan tersebut memilih jalan pintas yang berisiko. Mereka tak lagi memikirkan risiko hukum, karena tekanan kebutuhan dinilai lebih nyata menghantui keseharian mereka.
Yang menarik sekaligus menyedihkan dari kasus ini adalah modus komunikasi yang digunakan pasangan tersebut. Alih-alih menjadi ajakan rekreasi yang hangat, kalimat “ayo jalan-jalan” justru menjadi kode rahasia mereka untuk memulai aksi pencurian.
“Biasanya mereka gantian. Kadang istri yang ngajak, kadang juga suami yang ngajak,” ungkap AKP Hadi.
Frasa sederhana yang seharusnya menggambarkan kebersamaan keluarga, ternjustifikasi menjadi pemicu aksi kriminal. Pasangan ini saling bergantian peran dalam setiap eksekusi, menunjukkan koordinasi yang telah terencana meskipun dilatarbelakangi keputusasaan ekonomi.
Aksi terakhir mereka sebelum akhirnya diringkus aparat terjadi di kawasan G-Walk, Surabaya, sebuah pusat keramaian yang ramai pengunjung. Dalam aksi ini, sang istri, WP, berperan sebagai pemantau situasi atau lookout, sementara suaminya bertindak sebagai eksekutor.
“Begitu kondisi dinyatakan aman, si suami langsung beraksi mengambil motor. Sementara di G-Walk sendiri, pelaku sudah beraksi sebanyak tiga kali, hingga akhirnya dibekuk pihak kepolisian,” tambah AKP Hadi.
Kerja sama yang rapi ini membuktikan bahwa meskipun terdesak, mereka telah melakukan perencanaan matang, termasuk memilih target yang dianggap paling mudah.
Dalam melancarkan aksinya, LD mengaku hanya mengandalkan kunci T untuk merusak rumah kunci motor. Mereka secara spesifik menyasar motor matic karena dinilai lebih cepat dan mudah dibobol dibanding motor dengan kopling manual.
Sepanjang tahun 2025, pasangan suami istri ini tercatat telah beraksi di sembilan lokasi berbeda. Rinciannya: 6 lokasi di wilayah Surabaya dan sekitarnya dan 3 lokasi lainnya di Kediri.
Fakta lain yang mengejutkan adalah status suami, LD, yang ternyata merupakan seorang residivis. Ia pernah terjerat kasus pencurian mobil pada tahun 2023 yang ditangani oleh Polda Jawa Timur.
Status residivis ini menunjukkan bahwa meskipun telah merasakan dinginnya jeruji besi, faktor ekonomi dan kurangnya alternatif mata pencaharian bisa memaksa seseorang mengulangi kesalahan yang sama.
AKP Hadi menambahkan, seluruh motor hasil curian tersebut telah dijual kepada penadah melalui seorang perantara. Kini, tidak hanya LD dan WP yang harus mempertanggungjawabkan perbuatan, tetapi juga perantara dan penadah turut diamankan aparat.
“Saat ini, baik perantara dan pelaku telah kami amankan. Sementara kasus pencurian motor ke Polrestabes Surabaya,” pungkas AKP Hadi.
Kisah pasutri di Surabaya ini bukan sekadar berita kriminal biasa. Ini adalah cerminan dilema sosial di mana kesenjangan ekonomi dan keterbatasan lapangan kerja masih menjadi masalah klasik di perkotaan.
Namun, tekanan ekonomi tidak bisa menjadi pembenaran untuk mengambil hak orang lain. Kasus ini juga menjadi pengingat bagi masyarakat untuk lebih waspada terhadap modus kejahatan baru, serta pentingnya peran lingkungan dan keluarga dalam memberikan dukungan sebelum seseorang terjebak pada pilihan kriminal (sul)

