Pojokkiri.com

Tolak Angin Diterpa Isu, Nicholas Saputra Turun Tangan: Kebetulan atau Strategi Pulihkan Kepercayaan?

Nicholas Saputra dan Tolak Angin: Kolaborasi Prestise atau Misi Pulihkan Kepercayaan Publik

Semarang, Pojokkiri.com – Keputusan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk menunjuk aktor Nicholas Saputra sebagai brand ambassador Tolak Angin pada Mei 2026 menarik perhatian publik. Langkah tersebut dinilai sebagai upaya strategis perusahaan tersebut untuk memperkuat kembali kepercayaan masyarakat terhadap produk unggulannya yang sempat digoyang isu negatif di media sosial pada awal tahun ini.

Nicholas Saputra jelas bukan nama sembarangan. Aktor kelahiran 1984 ini merupakan dipandang sebagai figur pintar. Dia lulusan sekolah-sekolah favorit, seperti SMA Negeri 8 Jakarta dan S-1 program studi Arsitektur Universitas Indonesia. Nama besarnya di dunia hiburan berkibar sejak membintangi film “Ada Apa Dengan Cinta” di awal tahun 2000-an. Sepanjang kariernya selama lebih dari dua dekade, ia dikenal sangat selektif dalam memilih peran dan jarang tampil di layar kaca secara komersial. Kehati-hatiannya berbuah manis dengan raihan Piala Citra untuk film “Gie” pada 2005 dan film “Aruna & Lidahnya” pada 2018.

Reputasi selektif inilah yang kemudian memunculkan pertanyaan di kalangan warganet. Mengapa sosok yang begitu hati-hati dalam memilih naskah film bersedia menjadi duta sebuah produk herbal yang baru saja menghadapi goncangan kepercayaan publik? Pada Januari 2026, media sosial ramai mempersoalkan kandungan eugenol dari ekstrak daun cengkeh dalam Tolak Angin. Isu tersebut mengeklaim produk ini berpotensi merusak lambung, terutama bagi penderita GERD. Meskipun sebagian pihak menyatakan klaim tersebut tidak berdasar, dampak terhadap persepsi sebagian konsumen tidak bisa diabaikan begitu saja.

Dalam konteks inilah, penunjukan Nicholas Saputra dapat dibaca sebagai langkah kalkulatif dari Sido Muncul. Perusahaan yang berpusat di Ungaran, Kabupaten Semarang ini tampaknya membutuhkan figur dengan kredibilitas tinggi untuk meyakinkan kembali konsumen yang sempat ragu terhadap produknya. “Nicholas ini orangnya sangat hati-hati. Kita tahu sendiri image yang dijaga, lalu selalu menjaga integritas sebagai aktor,” kata Direktur Marketing Sido Muncul, Maria Reviani, saat peluncuran kampanye tersebut pada 18 Mei 2026.

Namun, bagi sebagian kalangan, justru di situlah letak ironinya. Citra Nicholas yang cerdas dan selektif seolah diposisikan sebagai jaminan mutu bagi produk yang tengah membutuhkan pemulihan reputasi. Slogan terkenal “Orang Pintar Minum Tolak Angin” pun kini dibaca dengan nada berbeda oleh sebagian warganet: apakah dalam hal ini orang pintar justru sedang dimanfaatkan kepintarannya?

Terlepas dari perdebatan tersebut, langkah Sido Muncul menggandeng Nicholas menunjukkan betapa seriusnya perusahaan ini dalam menjaga posisi pasarnya. Bagi industri herbal yang sangat bergantung pada kepercayaan konsumen, pemilihan duta merek bukan sekadar soal popularitas, melainkan soal siapa yang mampu menjadi jembatan kredibilitas antara produk dan masyarakat. Pertanyaannya kini, apakah Nicholas benar-benar sedang menolak angin dari tubuhnya, atau justru sedang membantu perusahaan ini menavigasi angin topan krisis reputasi yang belum sepenuhnya reda (sul)