Pojokkiri.com

Christopher Kevin Yuwono: Saat Selempang Gus Ekonomi Kreatif Lebih Berat dari Piala Utamaet/

Christopher Kevin Yuwono: Saat Selempang Gus Ekonomi Kreatif Lebih Berat dari Piala Utama
Gus Kevin dan Yuk Shafia bersama Dandim 0815 Mojokerto, Letkol Inf Abi Swanjoyo, S.Hub.Int dan Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Cabang XXX Kodim 0815 Mojokerto Ibu Anjani Abi Swanjoyo

MOJOKERTO, PojokKiri.com – Sabtu malam, 27 Juni 2026. Amphitheater Taman Bahari Majapahit bergemuruh. Sorot lampu menyapu wajah-wajah cemas para finalis.

 

Di antara mereka ada Christopher Kevin Yuwono. Namanya tidak dipanggil sebagai Gus Terpilih. Tapi ketika selempang “Gus Ekonomi Kreatif 2026” disematkan, tepuk tangan justru paling lama.

 

Karena publik Mojokerto tahu: di era algoritma dan UMKM naik-turun, jabatan itu bukan pelipur lara. Ia adalah penempatan paling strategis.

 

*Kalah di Panggung, Menang di Narasi*

 

Kevin memang gagal membawa pulang mahkota utama Gus Kota Mojokerto. Tapi ia pulang membawa amanah yang lebih berat: menghidupkan ekonomi kreatif kota ini.

 

“Kompetisi ini bukan soal siapa yang membawa pulang piala utama, tapi tentang bagaimana kita bisa memberikan kontribusi nyata,” kata Kevin malam itu.

 

Kalimat itu bukan basa-basi. Karena sejak awal, portofolio Kevin memang tidak bicara soal tampan atau vokal di panggung. Ia bicara soal kerja.

 

Ia datang dengan riwayat Juara 1 Duta GenRe Kota Mojokerto 2025. Ia pernah berdiri di Top 5 Duta GenRe Jawa Timur. Di sana ia tidak jualan gaya. Ia bicara stunting, pernikahan dini, dan krisis identitas Gen Z.

 

“Remaja hari ini hidup di era digital yang sangat cepat. Kita harus membuktikan bahwa Gen Z mampu memegang kendali atas masa depannya sendiri,” tegasnya.

 

Itu bukan kalimat kontes. Itu manifesto.

 

*Paket Komplet yang Langka di Kalangan Duta*

 

Apa yang membuat Kevin beda? Ia tidak menjual satu talenta. Ia menjual paket.

 

Di Palang Merah Remaja, ia ditempa empati. Di FLS3N 2025, ia Juara 3 Cipta Lagu. Ia bisa menulis nada dan lirik.

 

Lalu ia masuk film. _Rejoto Nyambung Tresno_, produksi Disporapar Kota Mojokerto. Ia memerankan Mada: anak juragan jeruk, arogan, playboy, penghalang cinta utama.

 

180 derajat dari dirinya yang asli. Dan ia melakukannya dengan meyakinkan.

 

Di situlah letak poinnya: Kevin bukan sekadar duta yang berorasi soal ekonomi kreatif. Ia sendiri adalah produk ekonomi kreatif. Ia aktor. Ia pencipta lagu. Ia pelaku.

 

*Beasiswa Petra: Validasi Terakhir*

 

Jika semua itu belum cukup, Universitas Kristen Petra Surabaya menutup keraguan. Kevin lolos Beasiswa Petra Future Leaders 2026.

 

Jalur PFL bukan jalur titipan. Ada tes akademik, nalar kritis, dan wawancara yang membedah visi dan integritas. Hasilnya: bebas 100% semester fee, potongan 75% course fee.

 

“Tahapan tes hingga wawancara kemarin benar-benar membuka wawasan saya,” ujarnya.

 

Artinya, kampus sekelas Petra melihat apa yang juri Gus Yuk lihat: pemuda ini punya daya pikul.

 

*Amanah di Bawah Bayang-Bayang Majapahit*

 

Tema tahun ini, _Citra Wicaksono Bahari Mahardika Mojopahit_, bukan pajangan. Wicaksono menuntut kebijaksanaan. Bahari Mahardika menuntut kemandirian dan semangat maritim dagang.

 

Wali Kota Ika Puspitasari tepat sasaran saat menunjuk Kevin. “Dibutuhkan talenta yang komunikatif dan melek digital untuk mengangkat produk UMKM,” katanya.

 

Karena masalah Mojokerto bukan kurangnya produk UMKM. Tapi kurangnya orang yang bisa menerjemahkan batik, kerajinan, dan kuliner ke dalam bahasa TikTok, marketplace, dan branding.

 

*Catatan Akhir: Selempang Itu Utang*

 

Jadi, apa arti selempang Gus Ekonomi Kreatif bagi Kevin?

 

Ia bukan trofi. Ia utang. Utang kerja pada 700+ UMKM Mojokerto yang butuh naik kelas. Utang janji pada anak muda bahwa Gen Z bisa jadi solusi, bukan masalah.

 

Dari panggung PMR, ke studio FLS3N, ke lokasi syuting, ke ruang wawancara Petra, Kevin sudah membuktikan satu hal: ia tidak berhenti di applause.

 

Sekarang pertanyaannya dibalik: Mampukah ia membuat UMKM Mojokerto juga tidak berhenti di lapak pasar?

 

Karena jika bisa, maka malam 27 Juni itu bukan cuma malam penobatan. Tapi malam titik balik. (Jay/Adv)