
Oleh: Robai Hamid Putu Salam
Usia manusia terus bertambah. Dalam mengarungi hidup, kita seperti berakit. Jangan seperti negara. Jangan meniru prilaku pengelola negara. Yang makin berani menambah hutang. Akbatnya, makin banyak beban. Beban yang akan ditanggung generasi mendatang. Pun begitu, hidup jangan menambah beban. Usia bertambah, jangan membeli atau berhutang untuk yang tidak kita butuhkan. Al Baqarah terakhir sudah jelas, Gusti Alloh tidak membebani kepada siapa pun di luar kemampuannya. Tegas dan diulang lagi dengan mentalqin doa di ayat yang sama. Gusti Alloh sudah menjamin mencukupi kebutuhan hidup makhluknya. Kebutuhan hidup pasti cukup. Beda dengan gaya hidup. Siapa pun, jika menuruti gaya hidup, selamanya akan memikul beban yang makin berat. Seperti negara. Beban hutang terus bertambah. Karena membeli yang tidak dibutuhkan. Pejabat baru, mobil dinas harus baru. Padahal mobil lama masih bagus. Buat apa beli baru. Pesawat Rafale itu belum diperlukan. Negara tidak sedang dalam ancaman. Kereta cepat Jakarta Bandung itu bukan darurat. Tapi hutangnya sudah darurat. Sudah ada beban utang 1,6 triliun. Utang negara sudah lebih 6000 triliun. Siapa yang menanggung beban. Jual pulau, jual aset, atau menaikkan pajak, menaikan BPJS, menaikan biaya haji, menaikan apa saja yang harus ditanggung rakyat. Setelah semua naik, gaji, tunjangan, bonus, untuk pengelola negara juga naik. Ada gaji 13, ada THR, ada Tukin, ada remunisasi, ada sertifikasi, ada uang telepon dan lain. Akhirnya, semua jadi beban. Parahnya lagi, ratusan bahkan ribuan triliun dari hasil bumi, dikorupsi. Bukan untuk nyicil utang. Kita yang usia bertambah, jangan mencari beban. Kita harus berakit. Sedikit demi sedikit dan akan jadi bukit. Siapa yang akan menanggung beban kita. Anak cucu? Belum tentu mereka mau. Atau belum tentu mereka mampu. Jika terjadi pada negara, tinggal serah terima jabatan dan utang kepada penggantinya. Menggantikan jabatan dan meneruskan beban hutang. Tapi kalau hutang pribadi, kepada siapa kita akan mewariskan. Robbana walatahmil Alaina…..dan Gusti Alloh pun menjawab, na’am…

