
Oleh; Robai Hamid Putu Salam
Saudara mahasiswa semua, kalian tahu ngga tokoh sufi yang dikenal dengan ma fil jubah illalloh, Abu al-Mughits al-Husain Bin Mansur bin Muhammad al-Baidhawi atau yang dikenal dengan syeh Mansur Al halaj. Atau tokoh fiqih KH Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh, Kajen. Antara sufi dan syariat. Tapi topik ini, bahasannya syariat. Gusti Alloh SWT itu mewajibkan, tapi tidak memaksa. Gusti Alloh itu memerintah, mastathoktum. Bukan masyiktum. Sholat itu wajib dengan berdiri, bagi yang mampu. Haji itu wajib, bagi yang mampu. Puasa itu wajib, bagi yang mampu. Imam Ahmad mewajibkan sholat itu jamaah. Mampu di masjid ya di masjid. Mampu di mushola ya di mushola. Pokoknya jamaah. Zakat itu wajib, bagi yang mampu. Enak kan. Hidup itu enak kan. Karena Gusti Alloh itu tidak membebani. Gusti Alloh itu menjamin. Mencukupi kebutuhan makhluk sebelum makhluk itu butuh. Ini sedikit sufi…
Kebutuhan hidup makhluk sudah dicukupi. Itu prinsip dasar. Tapi gaya hidup itu nafsu. Jika manusia berpegang pada prinsip, maka tidak ada manusia hutang. Tidak ada pengemis. Tidak ada proposal. Tidak ada korupsi. Tidak ada pungli, tidak ada gratifikasi. Tidak ada kolusi. Tidak ada ambisi. Tidak ada orang minta minta jabatan. Minta proyek. Membeli jabatan, dan lain-lain. Pun demikian dengan sehari-hari. Kalau makan cukup dengan tiga biji gimbal jagung dan sayur bening, ya udah nikmati. Prinsip dasar makan, baca bismillah, sambil duduk dan dengan tangan kanan. Doa itu wajib. Daripada makan mewah, prasmanan, sambil berdiri dan lupa doa. Apalagi sambil ketawa ketawa sampai akan doa pun malu. Buat apa makan mewah, motor, mobil rumah mewah, tapi tiap bulan harus membayar cicilan. Apalagi kalau ditagih, mbulet. Kalau kebutuhan motor cukup dan ada rezeki bisa untuk rehab rumah, beli rumah lagi atau beli mobil, padahal itu bukan kebutuhan, maka dia tergolong mampu. Sudah wajib haji. Ini syariat. Soal kapan berangkat, itu sudah hakikat. Panggilan yang memanggil. Kalau alasan lama, bukankah kita dipanggil yang pegang mik toa saja masih sering berdalih. Nunggu haji yang lama jadi alasan. Panggilan samping rumah juga masih alasan kok. Bahkan kenduri di rumah tetangga, atau tetangga duka cita saja tidak tahu kok. Mau panggilan apa lagi…. karena itu, di kampus UIN ada spanduk besar bertuliskan, tuhan sudah mati. Anak fakultas syariah tidak terima dengan tulisan itu. Tapi anak Ushuluddin bilang, lebih dari itu. Dan kita memang bukan ma fil jubah illalloh….

