Pojokkiri.com

Motif Dibalik Tragedi Pembacokan Kedinding: Emosi Usai Dipukul dan Tak Mau Bayar Bensin

Pelaku saat digiring petugas Polres pelabuhan Tanjung perak

Surabaya Pojokkiri.comSebuah insiden tragis mengguncang warga Kedinding Lor, Kenjeran, Surabaya. Pada Senin sore, 19 Mei 2025, seorang pria tewas secara mengenaskan di belakang Masjid Sirotol Mustaqim setelah terjadi cekcok terkait pembelian bensin di sebuah warung.

Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak AKBP Wahyu Hidayat melalui Kasatreskrim AKP Muhammad Prasetyo mengungkapkan bahwa kejadian bermula sekitar pukul 17.30 WIB saat korban membeli bensin jenis pertalite secara penuh dari warung milik pelaku berinisial BS (26), warga Sampang, Madura.

Namun, keributan pecah ketika korban menolak membayar bensin dan malah memukul pelaku. Tindakan tersebut memicu emosi pelaku, yang lantas merampas kunci motor korban dan mengejarnya hingga ke belakang masjid.

“Korban sempat mengambil celurit yang ada di dalam warung pelaku, lalu menyelipkannya di pinggang kiri pelaku. Setelah itu korban berusaha melarikan diri namun dikejar oleh pelaku menggunakan motor korban,” tutur AKP Prasetyo, pada Kamis (22/05/2025).

Di lokasi sempit di belakang masjid, korban terpojok. Pelaku yang masih dalam keadaan emosi membacok korban dua kali dengan senjata tajam jenis celurit yang dibawa dari warung. Akibat luka bacok di dada kiri serta lengan atas dan bawah yang mengakibatkan amputasi, korban tewas di tempat kejadian.

Usai melakukan aksinya, pelaku melarikan diri membawa sepeda motor korban. Namun motor tersebut akhirnya dibuang di Jalan Larangan, Kenjeran, Surabaya, sebelum pelaku kabur ke kampung halamannya di Sampang, Madura.

Polisi bergerak cepat. Berdasarkan laporan polisi nomor LP/B/35/V/2025/SPKT Polsek Kenjeran dan hasil penyelidikan yang melibatkan rekaman CCTV serta keterangan saksi, pelaku berhasil ditangkap dalam waktu kurang dari 24 jam.

“Dalam waktu satu kali 24 jam, pelaku berhasil diamankan di Sampang bersama barang bukti berupa sebilah celurit dan satu unit motor Supra X warna hitam,” jelas AKP Prasetyo.

Dari hasil pemeriksaan saksi dan pelaku, diketahui bahwa pembunuhan ini bukan direncanakan. Hubungan antara korban dan pelaku juga tidak saling kenal. Peristiwa tersebut terjadi secara spontan karena pelaku emosi setelah dipukul dan sebelumnya mengalami kerugian ekonomi akibat kehilangan lima tabung LPG.

“Ini murni dorongan emosi sesaat. Kami pastikan tidak ada hubungan antara korban dan kehilangan LPG pelaku,” tambah Prasetyo.

Polisi juga menyita uang tunai sebesar Rp30.000 yang ditemukan digenggam korban saat meninggal dunia. Hingga kini, pihak kepolisian masih mendalami apakah uang tersebut berkaitan dengan transaksi bensin yang dipersoalkan.

Polres Pelabuhan Tanjung Perak menyatakan komitmennya dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. AKP Prasetyo menegaskan bahwa pihaknya tidak akan mentolerir tindakan main hakim sendiri dan akan menindak tegas segala bentuk kejahatan.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak bertindak sendiri saat menghadapi masalah. Laporkan pada pihak berwajib. Kami akan terus hadir untuk memberikan rasa aman,” pungkasnya.

Tragedi ini menjadi peringatan keras bahwa kekerasan bukanlah jalan keluar dari konflik. Emosi sesaat dapat menghancurkan dua kehidupan sekaligus—korban dan pelaku. Semoga keadilan ditegakkan dan peristiwa seperti ini tak terulang di tengah masyarakat. 

 

Reporter Samsul Arif

Berita Terkait

Polisi Tes Urine Sopir Truk dan Bus, Pastikan Jelang Mudik Lebaran Bebas Narkoba

Kamar Kos Pengedar Sabu Banjarsugian Digerebek, Segini BB Ditemukan 

Warga Tenang, Polisi Intensifkan Patroli di Permukiman dan Wisata Kenpark