Pojokkiri.com, – SAMPANG – Gemuruh musik perkusi tradisional berpadu dengan aransemen modern kembali memukau ribuan pasang mata di Kabupaten Sampang. Sebanyak 32 kelompok Daul Combo dan Daul Dugdug tumpah ruah dalam festival tahunan yang digelar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang untuk merayakan kekayaan budaya Madura, Sabtu (28/3/2026).
Acara ini bukan sekadar hiburan musiman, melainkan panggung kreativitas bagi generasi muda sekaligus bukti nyata kepedulian pemerintah dalam menjaga marwah budaya lokal di tengah gempuran modernisasi.

Sekretaris Daerah Kabupaten Sampang, Yuliadi Setiyawan, yang membuka langsung Parade Combodug Sampang 2026, menegaskan bahwa Daul Combo adalah manifestasi dari jiwa masyarakat Sampang yang energik dan tangguh.
“Daul Combo bukan hanya sekadar musik, tetapi identitas kita sebagai masyarakat Madura. Setiap lantunannya mencerminkan semangat dan jiwa warga Sampang yang penuh energi,” ujar Yuliadi dalam sambutannya.
Beliau juga menitipkan pesan kepada generasi muda untuk menjadi garda terdepan dalam merawat kearifan lokal. Menurutnya, keberlangsungan budaya sepenuhnya bergantung pada seberapa besar kecintaan penerus bangsa terhadap jati dirinya.
Penampilan para peserta tahun ini dinilai mengalami peningkatan kualitas yang signifikan. Penonton disuguhi pemandangan artistik berupa:
Desain Kereta Musik: Replika kerajaan dan simbol budaya yang megah.
Eksperimen Musik: Perpaduan alat musik tradisional dengan instrumen modern yang menghasilkan harmoni khas Madura.
Kostum Tematik: Menunjukkan dedikasi tinggi dari Paguyuban Combodug Sampang (PCS) dalam menjaga estetika pertunjukan.
Momentum festival tahun ini terasa lebih spesial. Kesenian Daul Combo Sampang kini resmi mengantongi perlindungan hukum dari Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham).
Terbitnya Surat Pencatatan Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) nomor EBT35202600002 menjadi legitimasi bahwa seni pesisir ini secara sah milik masyarakat Sampang. Kabar ini disambut suka cita sebagai “kado lebaran” menjelang perayaan Lebaran Ketupat.
Kepala Bidang Kebudayaan Disporabudpar Sampang, Abdul Basith, menyatakan bahwa dengan adanya sertifikasi ini, Daul Combo telah naik kelas.

“Ini adalah legitimasi bahwa kebudayaan ini bukan lagi dalam fase pelestarian semata, melainkan telah memasuki fase Pemanfaatan Objek Kebudayaan. Hal ini diharapkan mampu menggerakkan berbagai sektor ekonomi kreatif di Sampang,” tegas Basith.
Dengan pengakuan negara dan antusiasme masyarakat yang terus meningkat, festival ini membuktikan bahwa tradisi lama tak akan lekang oleh waktu jika dirawat dengan inovasi dan kolaborasi yang kuat.(Man/F-R)

