Pojokkiri.com

AMPI Kota Kediri Bertaruh pada Generasi Muda

 KEDIRI — Panggung politik kepemudaan di Kota Kediri mulai bergeser. Di tengah dominasi wajah-wajah lama, seorang pemuda kelahiran 2006, Pramudya Ananta Permana, resmi muncul ke barisan depan. Melalui pelantikan pengurus bertajuk “Bareng AMPI Kota Kediri Nyawiji”, Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) Kota Kediri menandai babak baru: Gen Z mulai mengambil ruang, bukan sekadar menjadi penonton.

Pelantikan yang digelar di Kantor DPD Partai Golkar Kota Kediri, Jalan Super Semar Nomor 43, Kelurahan Ngronggo, Kecamatan Kota, Kediri, pada Minggu (22/8/2026) pagi itu, sekaligus mengukuhkan Pramudya sebagai Ketua Caretaker DPD AMPI Kota Kediri.

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Islam Kadiri (UNISKA) yang juga dikenal sebagai pengusaha muda tersebut kini memikul tugas tidak ringan: membangunkan mesin organisasi, merangkul anak-anak muda, hingga membuktikan bahwa generasi digital tidak hanya piawai membuat konten, tetapi juga mampu turun tangan menyelesaikan persoalan sosial.

Momentum tersebut turut dihadiri Ketua DPD AMPI Jawa Timur Junartha Yusuf atau Bung Jojo, Ketua DPD Partai Golkar Kota Kediri Sudjono Teguh Widjaja, S.E., serta Ketua DPD KNPI Kota Kediri Munjidul Ibad.

Ketua DPD AMPI Jawa Timur, Bung Jojo, menyebut pelantikan di Kota Kediri menjadi bagian dari gelombang besar konsolidasi AMPI di Jawa Timur. Dari 38 kabupaten dan kota, saat ini baru 22 daerah yang telah membentuk kepengurusan.

“Hari ini AMPI Kota Kediri berhasil menggelar Musda dan mendapatkan kader potensial yang masih sangat muda. Harapan saya, ini bisa mewakili teman-teman Gen Z di Kota Kediri untuk memberikan kegiatan positif dan inspirasi,” ujar Bung Jojo.

AMPI Jawa Timur, kata dia, memasang target ambisius. Konsolidasi organisasi di seluruh 38 kabupaten dan kota ditargetkan rampung pada Desember 2026.

Di Kota Kediri, tongkat estafet itu kini diberikan kepada generasi yang lahir dan tumbuh di tengah era internet. Sudjono Teguh Widjaja melihat kepemimpinan Pramudya sebagai peluang untuk membuka pintu politik yang selama ini kerap dianggap terlalu jauh dari dunia anak muda.

Ia berharap AMPI tidak berhenti sebagai organisasi yang sibuk dengan rapat dan seremoni, tetapi benar-benar menjadi jembatan antara generasi muda dan persoalan nyata masyarakat.

“Harapan saya, kepemimpinan baru ini bisa memfasilitasi kebutuhan urgen masyarakat dan membantu program pemerintah daerah. Mulai dari solusi anak putus sekolah agar bisa ikut program kejar paket, hingga bantuan fasilitasi layanan kesehatan dan rumah sakit bagi warga kurang mampu agar bebas dari beban biaya yang tidak seharusnya,” tegas Sudjono.

Pesan itu menjadi tantangan terbuka bagi kepengurusan baru AMPI Kota Kediri. Sebab, di tengah tingginya angka anak muda yang mulai apatis terhadap politik, organisasi kepemudaan dituntut menghadirkan kerja konkret, bukan sekadar jargon regenerasi.

Pramudya Ananta Permana menegaskan, AMPI Kota Kediri akan memprioritaskan aksi sosial sekaligus menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda.

“Kami hadir untuk memaksimalkan potensi Gen Z, membuktikan bahwa generasi ini tidak hanya untuk main-main, tetapi bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat bagi masyarakat,” kata Pramudya.

Ia juga membuka pintu bagi anak-anak muda Kota Kediri yang ingin mengenal dunia politik tanpa harus merasa canggung berhadapan dengan struktur dan tradisi politik yang selama ini identik dengan generasi senior.

“Untuk anak muda yang ingin belajar berpolitik tanpa canggung, AMPI siap menjadi wadah untuk belajar bersama para senior,” pungkasnya.

Sebagai langkah awal, DPD AMPI Kota Kediri akan memusatkan perhatian pada program bakti sosial dan pembenahan internal organisasi. Pembentukan struktur kepengurusan hingga tingkat ranting ditargetkan dapat diselesaikan dalam beberapa bulan mendatang.

Kini, tantangan sesungguhnya baru dimulai. Pelantikan telah usai, bendera telah dikibarkan, dan struktur organisasi mulai disusun. Pertanyaannya tinggal satu: mampukah AMPI Kota Kediri menjadikan energi Gen Z sebagai kekuatan nyata di tengah masyarakat, atau justru kembali tenggelam dalam rutinitas organisasi yang hanya ramai saat pelantikan?

Waktu akan menguji apakah “Bareng AMPI Kota Kediri Nyawiji” benar-benar menjadi titik lahirnya gerakan baru anak muda Kediri—atau sekadar seremoni pembuka sebelum mesin organisasi kembali senyap. (ade/wan)