
Surabaya, Pojokkiri.com,-
Peningkatan jumlah pasien HIV/AIDS di Jawa Timur menjadi sorotan. Peran Puskesmas sebagai ujung tombak langsung di masyarakakat diminta pro aktif untuk menjemput bola pendataan pengidap HIV/AIDS.
“Masyarakat harus melaporkan dirinya jika terkena HIV/AIDS ke Puskesmas atau dokter klinik setempat,” ujar ketua komisi E DPRD Jawa Timur Sri Untari Bisowarno, Jumat (1/11/2024).
Proaktifnya masyarakat ini, kata wanita asal Malang ini, agar sebaran HIV/AIDS ini tidak menjadi fenomena gunung es. “Kalau di bawah sudah 1000 orang tapi di atasnya 100 orang. Ini sebuah fenomena gunung es yang harus diantisipasi, “ujar politisi PDI Perjuangan ini.
Ketum Dekopin ini menjelaskan, dirinya yakin dengan jemput bola yang dilakukan petugas Puskesmas langsung di masyarakat melakukan pemeriksaan dan pencatatan akan dijumpai masyarakat HIV/AIDS. “Koordinasi dengan RT/RW setempat agar bisa diketahui penderitanya,” jelasnya.
Tak hanya itu, sambung Sri Untari, perlu juga kembali peningkatan sosialisasi tentang HIV/AIDS khususnya di usia produktif. “Gelar sosialisasi bahaya tukar jarum suntik maupun pergaulan bebas. Ini sebagai salah satu upaya menekan tingginya HIV/AIDS di Jawa Timur, ” tandasnya.
Jumlah orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang ditangani Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) cukup tinggi. Sepanjang Januari hingga Oktober, tercatat ada 243 kasus. Mereka merupakan pasien aktif dengan antiretroviral therapy (ART).
Dari 243 kasus ODHA yang ditangani RSUA, didominasi generasi muda atau usia produktif. Mereka mungkin terpapar karena pengaruh heteroseksual. Selain anak muda, ada pula kasus anak dengan HIV/AIDS (ADHA). Rata-rata bayi tertular dari ibunya. Penularannya bisa terjadi saat bayi masih di dalam kandungan, ketika proses persalinan, atau saat menyusui.(wan)

