Pojokkiri.com

DPR RI Dorong Komersialisasi Subsektor Kuliner Branding dan Daya Saing UMKM di Surabaya

Pelatihan komersialisasi subsektor kuliner di Hotel Elmi Surabaya bersama Kemenparekraf dan DPR RI.

Surabaya, Pojokkiri.com — Industri kuliner kembali menjadi sorotan utama dalam upaya penguatan ekonomi kreatif nasional. Melalui kegiatan Pelatihan Komersialisasi Subsektor Kuliner yang digelar di Hotel Elmi Surabaya, Kamis (30/10), Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI bersama Komisi VII DPR RI berkomitmen untuk memperkuat daya saing dan memperluas jangkauan produk kuliner Indonesia di kancah internasional.

Dalam sambutannya, Ir. Bambang Haryo Soekartono, M.I.Pol, Kapoksi Komisi VII DPR RI, menegaskan bahwa sektor kuliner merupakan tulang punggung ekonomi kreatif Indonesia.

“Workshop ini merupakan bentuk kolaborasi nyata antara DPR RI dan Kemenparekraf untuk mendorong pelaku usaha agar mampu melakukan komersialisasi produk, khususnya di sektor kuliner. Sebab, subsektor ini memberikan kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) ekonomi kreatif nasional,” ujarnya.

Bambang menjelaskan, dari total PDB ekonomi kreatif sebesar Rp215 triliun, sekitar 46% disumbang oleh sektor kuliner. Angka ini menunjukkan bahwa kuliner memiliki potensi luar biasa untuk menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat.

“Indonesia memiliki lebih dari 5.000 jenis kuliner Nusantara. Jika dikelola dan dipasarkan dengan baik, kuliner kita bisa menjadi ikon nasional yang mendunia. Lihat saja negara lain seperti Malaysia, meski memiliki jenis kuliner yang jauh lebih sedikit, namun mampu menarik lebih dari 27 juta wisatawan setiap tahun hanya karena daya tarik kulinernya,” tambahnya.

Ia berharap, sektor kuliner dapat menjadi pendorong utama pariwisata nasional dengan menciptakan efek berganda (multiplier effect) terhadap ekonomi daerah.

Sementara itu, Andi Ruswar, Direktur Kuliner Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kemenparekraf RI, menjelaskan bahwa komersialisasi kuliner merupakan langkah penting untuk membedakan usaha mikro dan kecil (UMKM) dari skala industri yang lebih besar.

“Komersialisasi berarti kita tidak hanya memproduksi, tetapi juga menciptakan nilai tambah melalui branding, inovasi, dan strategi pemasaran. Ketika kuliner kita dikenal dunia, itu menjadi bentuk klaim identitas budaya Indonesia. Misalnya, rendang yang kini diakui secara global sebagai kuliner asli Indonesia,” ujarnya.

Andi menambahkan, banyak kuliner di Surabaya dan daerah lain di Indonesia telah bertahan lintas generasi. “Itu membuktikan bahwa kuliner kita memiliki kekuatan budaya yang luar biasa. Tugas kita adalah menjaga, mengembangkan, dan memperkenalkannya kepada dunia,” katanya.

Melalui program Gastro Diplomacy dan Indonesia: The Space of The World, Kemenparekraf berencana mempromosikan kuliner Nusantara di berbagai negara dengan melibatkan duta besar Indonesia.

“Setiap kedutaan besar akan menjadi etalase kuliner Indonesia di dunia internasional,” ungkapnya optimistis.

Kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kapasitas pelaku usaha kuliner, terutama dalam hal inovasi produk, branding, dan strategi ekspor. Dengan dukungan pemerintah dan DPR RI, diharapkan subsektor kuliner dapat menjadi kekuatan ekonomi baru yang berkelanjutan dan mampu memperkenalkan kekayaan cita rasa Nusantara di panggung global (sul).

Berita Terkait

Copet di Car Free Day Taman Bungkul Dibekuk Polsek Wonokromo Surabaya

Hari Habitat se-Dunia Diperingati di Rusunawa Sumurwelut

Perkembangan Terbaru Kasus Korupsi PT DJA: Kejari Tanjung Perak Sita Rp3,5 Miliar