Pojokkiri.com

Kadet Soewoko Gugur di Gumantuk, Jadi Simbol Kepahlawanan Lamongan

 

Monumen Kadet Suwoko di Desa Gumantuk, Kecamatan Maduran, Kabupaten Lamongan.(Pojok Kiri/Zainul Lutfi)

Lamongan, Pojok Kiri.com-Kisah kepahlawanan Kadet Soewoko kembali dikenang sebagai bagian penting sejarah perjuangan rakyat Lamongan. Pada 9 Maret 1949, Kadet Soewoko bersama regunya terlibat dalam pertempuran sengit melawan pasukan Belanda di Desa Gumantuk, Kecamatan Sekaran, Lamongan.

Peristiwa bermula ketika Soewoko memimpin satu regu beranggotakan delapan pejuang dengan tujuh pucuk senjata. Mereka bergerak untuk menyerang sebuah truk Belanda yang terperosok.

Serangan awal berupa tembakan salvo sempat mengagetkan lawan, namun situasi berubah ketika jumlah pasukan Belanda meningkat dari sekitar 12 menjadi hampir 37 orang.

Terkepung dan kalah jumlah, regu kecil ini tetap bertahan. Dalam perlawanan terakhirnya, Kadet Soewoko gugur setelah tertembak dan ditusuk bayonet. Ia menolak menyerah meski kondisi tak lagi memungkinkan.

Selain Soewoko, beberapa pejuang lain yang gugur dan dimakamkan bersamanya antara lain Soekaeri, Widodo, dan Lasiban—total tiga hingga empat orang dari regu tersebut.

Jenazah para pejuang awalnya dimakamkan di Gumantuk, sebelum kemudian dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Lamongan. Pengabdian mereka kini diabadikan melalui patung peringatan, nama jalan, hingga kegiatan napak tilas tahunan yang rutin digelar masyarakat sebagai bentuk penghormatan.

Peristiwa gugurnya Kadet Soewoko tak hanya menjadi catatan sejarah perjuangan, tetapi juga simbol keberanian dan pengorbanan pemuda Lamongan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.(lut)