Pojokkiri.com

Dolar Tembus Rp 18.700 Imbas Konflik Global, Harga Suku Cadang dan Oli di Lamongan Melejit

 

Pak Marsun pemilik bengkel di Jl Sumargo nomor 15 Kecamatan/Lamongan.(Foto: Zainul Lutfi for Pojok Kiri)

Lamongan, Pojokkiri.com-Ketegangan geopolitik global akibat perang antara Iran dan Amerika Serikat yang disertai penutupan Selat Hormuz mulai memukul sektor usaha mikro di daerah. Lonjakan nilai tukar dolar AS yang kini menembus angka Rp 18.700 per 1 dolar memicu kenaikan harga barang, termasuk komponen otomotif.

Dampak nyata ini dirasakan langsung oleh para pengusaha bengkel kendaraan bermotor di Kabupaten Lamongan. Mereka mengeluhkan harga suku cadang hingga oli kendaraan yang terus merangkak naik akibat melambungnya biaya impor.

Marsun, salah seorang pemilik bengkel di kawasan Jalan Sumargo, Kecamatan Lamongan, mengungkapkan bahwa kenaikan harga komoditas otomotif ini terjadi secara menyeluruh. Komponen yang paling terasa lonjakannya adalah oli dan ban motor.

“Kenaikan terjadi sejak perang Iran dan Amerika, serta penutupan Selat Hormuz. Setelah itu, dolar melambung hingga menyentuh Rp 18.700 per 1 dolar,” ujar Marsun saat ditemui Wartawan Harian Pagi Pojok Kiri di bengkelnya, Senin (13/7/2026).

Menurut Marsun, kenaikan harga untuk produk oli dan ban motor saat ini sudah mencapai kisaran 20 persen hingga 25 persen. Tidak hanya pada komponen utama, onderdil kecil yang sebelumnya stabil kini juga ikut mengalami penyesuaian harga.

“Sekarang baut-baut kecil juga naik. Memang tidak terlalu besar, ada yang naik Rp 5 ribu sampai Rp 15 ribu, tapi hampir semua barang ikut naik,” tambahnya.

Ia menjelaskan bahwa para distributor terus melakukan penyesuaian harga seiring tingginya biaya impor barang otomotif. Kondisi ini membuat para pelaku usaha bengkel lokal tidak memiliki pilihan selain ikut menaikkan harga jual kepada konsumen agar tidak merugi.

“Iya, karena spare part rata-rata impor. Jadi kalau dolar naik, otomatis harga dari distributor juga ikut naik,” jelasnya.

Meski biaya operasional dan modal membengkak, Marsun mengaku terpaksa memangkas margin keuntungan demi menjaga loyalitas pelanggan. Ia khawatir jika kenaikan harga dipatok terlalu tinggi, konsumen akan beralih ke tempat lain.

“Untung sedikit, tidak apa-apa. Asal pelanggan puas dan tidak lari ke bengkel lain,” pungkas Marsun sembari tersenyum ramah.(lut)

Editor: Zainul Lutfi