
Surabaya Pojokkiri.com – Peta politik Jawa Timur menjelang Pemilihan Gubernur (Pilgub) 2029 mulai menghangat dengan munculnya wacana poros baru.
Pasangan Emil Elestianto Dardak dan Lia Istifhama, yang kini mulai populer dengan sebutan EMILIA, diprediksi bakal menjadi magnet baru yang diperhitungkan dalam kontestasi mendatang.
Pengamat politik sekaligus Peneliti Senior Surabaya Survey Center (SSC), Ikhsan Rosidi, menilai munculnya nama pasangan ini bukan tanpa alasan.
Keduanya dinilai memiliki popularitas, kapasitas, serta rekam jejak politik mentereng yang hampir tanpa celah di mata publik.
Emil Dardak, yang saat ini menjabat sebagai Ketua DPD Partai Demokrat Jawa Timur sekaligus petahana Wakil Gubernur, dinilai memiliki modal politik yang sangat kuat.
Pengalamannya memimpin Jatim selama dua periode bersama Khofifah Indar Parawansa telah membentuk kematangan personalnya sebagai birokrat dan politisi.
“Emil memiliki modal politik utama yang sulit diabaikan oleh partai mana pun. Catatan bersihnya selama memimpin Jatim, ditambah jaringan akar rumput yang kuat hingga ke elite politik, menjadi jaminan kemapanan struktur penopangnya,” ujar Ikhsan, Sabtu (18/7/2026).
Di sisi lain, Lia Istifhama bukanlah nama baru di panggung politik. Sebagai anggota DPD RI terpilih asal Jatim, Lia mencetak prestasi luar biasa pada Pemilu 2024 lalu sebagai salah satu senator perempuan nonpetahana dengan raihan suara tertinggi di Indonesia.
Lia juga dipandang sebagai representasi kuat dari kaum Nahdliyin (NU), baik secara kultural maupun struktural. Ditambah lagi, faktor kekerabatannya dengan Khofifah Indar Parawansa diyakini menjadi dongkrak elektoral yang signifikan.
“Lia akan menjadi sosok yang sangat menarik untuk meramaikan kontestasi sebab dianggap sebagai representasi kultural maupun struktural kaum Nahdliyin (NU). Salah satu kelompok segmen pemilih terbesar di Jawa Timur,” katanya.
“Jaringan dan mesin politiknya sebagai senator sekaligus sebagai tokoh muda NU tentu saja juga telah tertata kuat dan rapi. Ini akan menjadi kekuatan menjanjikan untuk bertarung di Pilgub nanti,” tambah Ikhsan.
Salah satu daya tarik terbesar dari pasangan EMILIA ini, kata Ikhsan, adalah kemampuan mereka dalam membelah dan menguasai dua ceruk pemilih paling potensial di Jatim. Yakni, kelompok perempuan (emak-emak) dan generasi muda (Gen Z).
Menurut Ikhsan, karakter pemilih emak-emak cenderung dominan berbasis subjektivitas gender dan preferensi kelompok. Dalam konteks ini, Lia dinilai sangat mudah meraup dukungan karena kedekatan kultural NU dan representasi gender yang kuat.
Sementara itu, Emil Dardak dipandang sebagai representasi pemimpin muda masa kini. Citranya yang bersih dari kasus korupsi, jauh dari gunjingan negatif di kehidupan personal, serta gaya kepemimpinan yang teknokratis membuatnya sangat digandrungi Gen Z.
“Pertemuan antara Emil yang matang di birokrasi dan Lia yang memiliki basis kultur NU kuat adalah kombinasi yang sangat menjanjikan. Ini adalah duet yang mampu berbicara banyak di kancah politik Jatim,” tambah Ikhsan.
Meskipun di atas kertas pasangan ini memiliki daya tawar yang sangat tinggi, Ikhsan memberikan catatan kritis.
Tantangan terbesar bagi pasangan EMILIA saat ini adalah bagaimana magnet politik yang mereka miliki mampu menggerakkan partai-partai politik untuk memberikan rekomendasi resmi.
“Kapasitas dan popularitas paslon sehebat apa pun tidak akan maksimal tanpa dukungan resmi dari partai politik sebagai mesin pemenangan. Ini menjadi PR serius bagi Emil dan Lia. Mereka harus segera memulai komunikasi politik yang intens dan strategis dengan parpol-parpol di Jawa Timur jika ingin mengamankan tiket menuju Pilgub 2029,” pungkas Ikhsan (sul)

