
Surabaya Pojokkiri.com – Semangat anak muda untuk terlibat langsung dalam menyelesaikan persoalan sosial mendapat ruang positif melalui audiensi Gerakan Aksi Sosial Pemuda (GAS Pemuda) dengan Anggota DPD RI Lia Istifhama di Kantor Perwakilan DPD RI Jawa Timur, Surabaya, Senin (20/7/2026).
Pertemuan tersebut menjadi momentum untuk membahas berbagai persoalan sosial sekaligus membuka peluang kolaborasi dalam membantu masyarakat yang membutuhkan, khususnya kelompok rentan dan warga yang masih menghadapi tantangan ekonomi.
Dalam audiensi itu, hadir Muhammad Nurul Farodis selaku pembina GAS Pemuda, Charly Haryono Teguh sebagai Ketua GAS Pemuda Surabaya, Izyan Riffat Zakky selaku wakil eksternal, serta Solomon Metternich Santoso sebagai sekretaris. Menariknya, para penggerak organisasi tersebut berasal dari kalangan pelajar.
Ketua GAS Pemuda Surabaya Charly Haryono Teguh menyampaikan bahwa organisasi yang dipimpinnya berupaya menghadirkan gerakan sosial yang tidak hanya berorientasi pada bantuan sesaat, tetapi juga mendorong pemberdayaan masyarakat.
Salah satu fokus kegiatan yang selama ini dijalankan adalah membantu warga kurang mampu melalui kegiatan bakti sosial. Di antaranya, kegiatan sosial yang menyasar masyarakat di wilayah Rangkah, Kecamatan Simokerto, Surabaya.
Selain bantuan sosial, GAS Pemuda juga memiliki perhatian terhadap pemberdayaan ekonomi ibu rumah tangga. Upaya tersebut diharapkan dapat membuka kesempatan bagi keluarga untuk meningkatkan kemandirian ekonomi dan secara perlahan keluar dari persoalan kemiskinan.
Dalam audiensi tersebut, GAS Pemuda juga memperkenalkan sejumlah program kerja yang akan dijalankan dalam waktu dekat. Mereka berharap dapat membangun kolaborasi dengan Lia Istifhama dalam berbagai kegiatan sosial, termasuk bakti sosial di kampung binaan dan kegiatan lingkungan seperti penanaman mangrove.
GAS Pemuda juga menyampaikan sejumlah program yang telah berjalan, termasuk pembinaan pendidikan anak di lima kampung binaan.
Di antaranya, program pendidikan anak yang berada di Kampung Bratang dan Tangkis. Program tersebut menjadi salah satu bentuk perhatian GAS Pemuda terhadap pentingnya pendidikan sebagai fondasi bagi masa depan anak-anak.
Melalui program kampung binaan, GAS Pemuda berupaya hadir lebih dekat dengan masyarakat. Selain membantu memenuhi kebutuhan sosial, mereka juga ingin mendorong anak-anak mendapatkan pendampingan dan kesempatan berkembang secara lebih baik.
Organisasi tersebut juga mengajak Lia Istifhama untuk terlibat dalam kegiatan sosial di kampung binaan, termasuk dalam upaya mengidentifikasi dan membantu calon penerima manfaat yang membutuhkan perhatian.
Dalam pertemuan tersebut, GAS Pemuda juga menyampaikan gagasan untuk mendorong masyarakat rentan agar tidak terus terjebak dalam lingkaran kemiskinan kultural.
Menurut mereka, persoalan kemiskinan tidak cukup hanya diatasi melalui pemberian bantuan. Diperlukan pendampingan, akses pendidikan, pemberdayaan ekonomi, serta kolaborasi berkelanjutan agar masyarakat memiliki kesempatan untuk tumbuh dan meningkatkan kualitas hidup.
Karena itu, GAS Pemuda berharap mendapatkan masukan dan arahan dari Lia Istifhama mengenai langkah-langkah yang dapat dilakukan ke depan agar gerakan sosial yang mereka jalankan semakin tepat sasaran dan memberikan manfaat yang lebih luas.
Mereka juga menyampaikan rencana untuk mengundang Lia Istifhama dalam sejumlah kegiatan, termasuk bakti sosial serta program penanaman mangrove sebagai bagian dari kepedulian terhadap lingkungan.
Sementara itu, Anggota DPD RI Lia Istifhama menyambut positif audiensi yang dilakukan GAS Pemuda Surabaya.
Menurut Lia, pertemuan tersebut menunjukkan bahwa anak muda memiliki kepedulian yang kuat terhadap persoalan sosial di sekitarnya. Ia menilai, semangat tersebut merupakan modal penting untuk membangun gerakan sosial yang berkelanjutan.
“Yang saya lihat dari adik-adik GAS Pemuda ini adalah semangat untuk hadir dan membantu masyarakat. Mereka masih pelajar, tetapi sudah memiliki kepedulian sosial yang besar. Ini tentu merupakan energi positif yang harus terus didukung,” ujar Lia.
Lia mengatakan, kegiatan sosial akan memiliki dampak yang lebih besar apabila dilakukan secara terarah dan berkelanjutan. Karena itu, ia mendorong GAS Pemuda untuk terus memperkuat program kampung binaan, terutama yang berkaitan dengan pendidikan anak dan pemberdayaan masyarakat.
“Bantuan sosial memang penting, tetapi yang tidak kalah penting adalah bagaimana masyarakat bisa memiliki kemampuan untuk bangkit dan mandiri. Pendidikan, pendampingan dan pemberdayaan ekonomi harus berjalan bersama,” jelasnya.
Lia juga membuka ruang kolaborasi dengan GAS Pemuda dalam berbagai kegiatan sosial yang memiliki manfaat langsung bagi masyarakat.
Ia menyambut baik rencana kegiatan bakti sosial di kampung binaan serta program penanaman mangrove. Menurutnya, kegiatan sosial dan kepedulian terhadap lingkungan dapat menjadi ruang pembelajaran bagi anak muda untuk terlibat langsung dalam persoalan masyarakat.
“Saya tentu sangat terbuka untuk berkolaborasi. Anak muda memiliki energi, kreativitas dan keberanian untuk bergerak. Yang penting, gerakan itu diarahkan agar benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat dan memberikan dampak nyata,” tuturnya.
Lia juga berpesan agar GAS Pemuda tetap menjaga semangat kerelawanan dan membangun kerja sama dengan berbagai pihak.
Menurutnya, persoalan sosial tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Diperlukan sinergi antara masyarakat, komunitas, pemerintah, dunia pendidikan, dunia usaha dan berbagai elemen lainnya.
“Yang paling penting adalah konsistensi. Jangan sampai gerakan sosial hanya hadir ketika ada momentum tertentu. Justru keberlanjutan dan pendampingan yang akan membuat manfaatnya semakin terasa bagi masyarakat,” kata Lia.
Ia berharap, GAS Pemuda dapat terus berkembang sebagai wadah bagi anak-anak muda untuk belajar, bergerak dan memberikan kontribusi positif.
“Semoga GAS Pemuda dapat terus menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda. Dari kegiatan sosial, pendidikan, pemberdayaan ekonomi hingga kepedulian lingkungan, semuanya bisa menjadi jalan untuk menghadirkan perubahan yang baik,” pungkasnya (sul)

